Di
akte kelahiran saya sih tercantum 1993. Itu karena ayah saya yang mengurus
pembuatannya. Maklumlah, akte dibuat ketika saya sudah gede.
Sebenernya
sih tak apa juga kalau seandainya tahun 1993. Tapi masalahnya. Tetangga sekaligus
teman saya katanya lahir terlebih dulu dari pada saya. Tapi kenapa tahunnya
duluan saya?. Hah… ada yang tidak beres dengan ayah saya.
Pemberontakan
dimulai. Setiap kali ada momen yang menyangkut tanggal lahir. Saya selalu
menanyakan lagi dan lagi. Menyuruh mereka mengingat-ingat. Menghitung mundur
atau apalah. Hingga pada suatu saat telah sampalah kepada keputusan yang
berbahagia. Ternyata benar saya lahir pada tahun 1994. Senang juga menjadi
lebih muda satu tahun. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semua dokumen-dokumen
sudah memihak ayah saya. Dari ijazah SD sampai SMA. Hanya ijazah TK yang memiliki
kebenaran yang sejati. Baik itu tahun lahir ataupun penulisan nama saya. Hanya saja
ijazah TK tidak berguna untuk apapun.
Tak
jarang teman-teman menanyakan tahun lahir. Dengan sabar saya menjawab disertai
penjelasan. Tapi kenapa yang nanya ganti-ganti? Capek juga kali jelasin!!! Mau langsung
bilang 1993 juga gengsi. Ketuaan. Tapi apa boleh buat. Huft… sekali lagi, nasi
sudah menjadi bubur…
wah, mending nasi sudah menjadi bubur... masih enak. Lebih tepatnya: kayu sudah menjadi arang...
BalasHapus