Senin, 02 Juli 2012

Istri kedua Soekarno

Istri kedua Soekarno
          Suatu ketika Soekarno mengunjungi tanah Sunda untuk menuntut ilmu. Gelar Insinyur, itulah yang ia cari. Dia pergi ke Bandung dengan istrinya yaitu Utari, putri dari pemimpin Sarekat Islam, HOS Tjokro Amonoto. Kebetulan Pak Tjokro mengenal keluarga Sanusi yang bertempat tinggal di Bandung. Oleh karena itu beliau memberitahu bahwa Soekarno akan datang ke Bandung dan membutuhkan tempat tinggal. Namun Sanusi beserta istrinya tidak menemukan tempat tinggal yang dapat ditempati Soekarno. Oleh karena itu maka diusulkanlah agar mereka tinggal di rumah Sanusi sendiri untuk sementara. Inggit sempat keberatan karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Namun, akhirnya ia setuju juga.
          Sesampai Soekarno di Bandung dia sambut dengan hangat oleh pasangan suami istri itu. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Inggit merasa Soekarno adalah orang yang menyenangkan. Pembicaraan di antara mereka sangat cair.
ada kejanggalan yang dirasakan tuan rumah. Utari dan Soekarno meminta agar kamar mereka dipisah saja. Awalnya hal ini terasa aneh. Namun Soekarno menjelaskan bahwa sebenarnya di antara mereka belum terjadi hubungan suami istri. Utari dianggap sebagai adik semata. Tak ada rasa cinta terhadap Utari sebagai kekasih. Begitu pula dari sudut pandang Utari.
Sudah agak lama mereka menempati rumah Sanusi. Mereka ditawarkan untuk pindah agar mereka lebih leluasa. Tetapi Soekarno menolaknya dan meminta agar di izinkan tinggal di rumah mereka saja dengan alasan mereka merasa senaang tinggal disana. Lagi-lagi mereka menyetujuinya.
Kebersamaan dalam satu rumah nampaknya telah mempengaruhi hati seorang Soekarno. Kebaikan dan kelembutan hati Inggit mampu menggereakkan hati Soekarno. Hingga pada suatu malam ketika Kang Uci (Sanusi) sedang tidak ada di rumah Inggit bercengkrama dengan Soekarno di teras rumah. Pembicaraan berujung pada masalah hati mereka. Berawal dari penjelasan bahwa hubungannya dengan Utari yang tak lebih dari hubungan seorang saudara. Hingga pernyataan bahwa dia mencintai Inggit. Dia merasakan kedamaian jika bersama Inggit dan hal itu tak pernah ia dapatkan dari Utari. Janji-janji Soekarno kepada Inggit bahwa dia akan mengatakan niatnya kepada Kang Uci. Inggit tak mampu mengelak dari hasrat yang dirasakannya. Jadilah pembicaraan yang tak sekedar pembicaraan.
          Inggit mengutarakan niatnya baik-baik bahwa ia ingin bercerai dengan Kang Uci. Ternyata Soekarno sudah mengatakan terlebih dahulu kepada kang Uci  bahwa dia mencintai Inggit dan ingin menikahi Inggit. Akhirnya permintaan cerai dari Inggit dikabulkan asalkan menikah dengan Soekarno. Sementara Utari dikembalikan kepada keluarganya secara baik-baik agar tidak ada kesalah pahaman atau rasa tersinggung.
          Pernikahan Inggit dengan Soekarno berlangsung ketika Soekarno masih menajdi student. Secara otomatis tak ada nafkah yang dihasilkan oleh Soekarno. Dalam keadaan itu, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga termasuk biaya sekolah Soekarno. Usaha yang dilakukannya seperti menjual kue atau menerima jahitan. Inggit melakukan semua itu dengan sabar dan tanpa mengeluh. Harapannya adalah agar Soekarno segera mendapat gelar Insinyurnya. Karena ia yakin Soekarno adalah pemuda yang ditunggu oleh bangsa ini untuk menggapai kemerdekaan.
          Selepas Soearno mendapat gelar Insinyurnya mulailah ia menjalankan  misinya. Menggerakkan masyarakat agar mau merdeka. Tawaran pekerjaan dari pemerintahan kolonial ditolaknya demi mewujudkan Indonesia merdeka.
          Sudah mulai tampak bakat-bakat Soekarno sebagai pejuang revolusioner. Berorasi di berbagai tempat dilakoninya. Kegiatan itu juga mengancam nyawanya. Pemerintah kolonial mulai mencurugainya dan menganggapnya sebagai seorang yang berbahaya. Pembuangan demi pembuangan juga dirasakannya. Inggit selalu menemaninya dalam kondisi itu.
          Pembuangan terakhir bersama Inggit ialah ke Banda Niera. Di sana mereka tinggal berempat bersama kedua anak angkat mereka. Ratna Djuami anak angkat mereka yang pertama nampaknya senang tinggal di sana karena dia mendapatkan seorang teman yaitu Fatmawati. Keluarga Fatmawati meminta agar anaknya diperkenankan tinggal di rumah Soekarno agar dia mendapat pendidikan dari keluarga itu. Keberatan yang dirasa pasangan suami istri itu akhirnya padam oleh kegembiraan Djuami. Jadilah Fatmawati tinggal serumah dengan keluarga Soekarno.
          Ketenangan Inggit diusik oleh bisik-bisik tetangga. Rasa tak percaya dan juga penasaran menghampirinya. Kesalahannya meninggalkan rumah dalam beberapa hari sudah mulai tampak. Nampaknya ada sesuatu antara Soekarno dan Fatmawati. Kepergian Inggit memberi mereka kesempatan lebih luas. Inggit juga sempat mengintai keduanya. Kenyataan pahit didapatnya. Hingga tiba saat dimana Soekarno menyatakan kepada Inggit bahwa ia ingin memiliki keturunan. Memiliki generasi dari darah dagingnya sendiri. Sungguh ini adalah tamparan keras bagi Inggit. Kenapa tidak semasa di pembuangan sebelumnya sewaktu inggit masih belum beranjak 50 tahun pikir Inggit. Sudah jelas pula arah pembicaraan  Soekarno bahwa ia ingin menikah lagi. Alasan yang diberikan sungguh mengada-ngada dan tak masuk akal pikir Inggit. Tak terbayangkan betapa teririsnya hati Inggit. Setelah pengorbanan jiwa dan harta untuk Suaminya inilah yang ia dapat. Tak ia relakan dirinya utuk dimadu. Karena sangat pantang baginya dalam hal tersebut. Dengan kata lain perceraianlah jalan keluarnya. Perceraian akan diurus ketika sampai di Jawa.
          Seketika sampai di tanah Jawa mereka disambut oleh Ratna Djuami beserta keluarganya. Inilah saatnya ia mencurahkan isi hatinya kepada anaknya. Isi hati yang tertahan dan hanya terungkap oleh tangis. Djuami ikut menangis mendengar cerita ibunya. Ia sangat marah kepada Papinya. Namun keputusan itu sudah bulat. Rasa berdosa menyelimuti perasaan Djuami. Dia merasa dialah penyebab dari kejadian ini.
          Ketika sampai di Bandung mereka mengurus perceraian. Berakhirlah kisah rumah tangga Soekarno dan Inggit.
         
Note :
 jika ada kesalahan mohon kritik serta sarannya. Kisah menarik ini dapat dibaca di buku karangan Ramadhan K. H. “Kuantar Kegerbang”. Seperti judul buku itu, Inggit seperti seorang pengantar bagi Soekarno. Setelah Soekarno dikenal dan berpendidikan dileaskanlah ia. Direlakan Soekarno untuk bangsa ini.

         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar