Yah, pada awalnya aku hanya ingin pulang ke tanah kelahiranku. Semua urusan dengan SMA ku selesai sudah. saatnya pulang ke rumah. Mengingat ada seorang teman yang juga di daerah itu, aku ingin berkunjung. Usai berkunjung aku diantar ke halte depan kampus.
Perasaanku tak enak sejak pagi hari. Entah apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa diam sambil melihat kiri-kanan dari dalam bus. Panorama kota Jakarta memang pantas menjadi magnet. Karena pembangunan di daerah-daerah benar-benar terasa kesenjagannya.
Lamunanku terasa panjang dengan didukung kondisi macet parah di sepanjang jalan. Rupanya ini yang mengakibatkan kecemasanku sedari pagi. kretaku beangkat pukul 07.35 malam. Sementara aku masih berada di bundaran HI pukul 07.15. Benar saja perkiraanku. Aku tiba di stasiun pukul 07.40.
Apa yang bisa dilakukan seorang gadis SMA sepertiku. Hanya meratapi dan bertanya-tanya. Pertanyaanku berakhir di Gambir. Tak ada jalan lain selain membeli tiket lagi. Benar-benar menipiskan kantong.
Kemana aku akan pergi setelah ini. Hanya ada satu jawaban. Kembali ke tempat itu.
Terlihat seorang melambai. Ku hampiri ia. Rupanya bantuan sudah datang. Syukurlah, keadaan tidak terlalu buruk.
Dimulailah proses diriku menjadi kagum. melalui perbincangan yang kaku tak tau arah. Reda sudah kesedihanku. Bahkan aku merasa tenang, dan kagum. Senang rasanya berada dengan orang seperti ini. Seperti seorang sosok yang hendak muncul ke permukaan. Perbincangan di atas motor sudah cukup membuatku yakin seyakin-yakinnya.
Sesampainya di tempat tujuan ternyata benar. Dia memang mengagumkan. Sibuk berorganisasi. Dia adalah gambaran impianku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar