Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

BADAI MATAHARI ANDALUSIA



                Aku menemukan buku ini ketika berjalan-jalan di kampong ilmu, jl. Semarang Surabaya, untuk memenuhi rasa penasaranku terhadap tempat tersebut. Tak mahal, hanya dengan Rp. 15.000 saja aku bisa memiliki novel tersebut.
Judul                     : Badai Matahari Andalusia
Pengarang          : Hary El-Parsia
Halaman              : 399
Tebal                     : 2 Cm
Penerbit              : Diva Press
Cetakan               : 1 (2013)
                Buku ini mengisahkan tentang suatu zaman kelam bagi umat muslim di Eropa setelah 8 abad lamanya islam bertengger di Eropa. Setelah terjadi peristiwa kristenisasi dan pembantaian besar-besaran di Andalusia, semua umat islam diharuskan memilih, masuk Kristen, pergi dari tanah air, atau menetap dan islam tetapi di bunuh dan disiksa.
                Aku tidak tahu pasti cerita di novel ini menceritakan keturunan Isabella ke berapa, sepertinya bukan Raja Frederic dan Ratu Isabella, dua sejoli yang namanya tertera dalam sejarah pembantaian islam. Raja yang memerintah adalah raja Varest, ratu Juliana Fransisca Isabella dan putra mahkota Fredich.
                Ketika itu semua daerah kekuasaan sudah menganut ajaran Kristen, masing-masing desa menyerahkan satu orang untuk menjadi pelayan di kerajaan Isabella. Namun, ternyata ada satu desa bernama Desa Gheyhalda yang masih beragama islam, mereka luput dari pembaptisan. Biar begitu mereka tetap mengirimkan satu orang untuk menjadi pelayan istana agar keislaman mereka tidak diketahui. Pelayan istana itu bernama Fatra.
                Suatu ketika, pangeran Fredich memerintahkan prajuritnya untuk menyelidiki seluruh desa, dan memastikan bahwa mereka sudah menjadi penganut yesus. Kabar gembira diterima Fredich, laporan prajuritnya menyatakan bahwa desa yang mereka kunjungi sudah Kristen. Tapi ternyata laporan terakhir menyatakan bahwa ada satu desa yang masih islam. Desa Gheyhalda sudah diketahui keislamannya. Setelah Fredich mengetahui, dia murka dan mengerahkan pasukan yang dipimpin langsung olehnya untuk melenyapkan desa Gheyhalda.
                Warga desa sudah habis, dipenggal, terkena sabetan pedang serta dibakar. Pasuka Fredich hendak pulang dan merayakan kemenangannya. Pihak istana sudah menyiapkan pesta yang begitu mewah dan gemerlap. Namun ditengah perjalanan pulang, Fredich dihadang oleh Laskar Muslim Andalusia di tengah hutan, semangat mereka mampu mengalahkan Fredich, namun Fredich belum mati. Dia bersembunyi dan sebagian mencari bantuan dari istana. Raja mengerahkan 10.000 pasukan yang dipimpin oleh Julian untuk menjemput pangeran. Tak gentar semangat Laskar Muslim, mereka menyerang pasukan Julian, walau akhirnya mereka mati syahid karena ketidak seimbangan kekuatan.
                Fredich pulang bersama Julian dengan selamat. Pesta digelar besar-besaran. Fatra sangat sibuk mempersiapkan makanan di dapur, tanpa tau ada apa gerangan pihak kerajaan mengadakan jamuan besar-besaran. Fatra hanya bekerja dengan tekun, dan bersemangat Karena mala mini ia akan pulang mengunjungi keluarganya.
                Fatra pulang dimalam hari agar tidak ada orang yang tahu. Dia melewati hutan, dan bertemu dengan tetangganya bernama Adlan, namun dengan kondisi sudah meninggal, tidak hanya adlan, tetapi orang-orang muslim yang lainnya, Fatra berteriak sekencang-kencangnya dan ingin segera pulang menceritakan kepada orang tua nya. Ketiak melihat gapura, fatra merasa lega dan ingin segera pulang, ketika memasuki gapura,… tak kuasa menuliskannya, fatra melihat mayat warga desa yang terbunuh, dipenggal, dibakar oleh tentara Isabella. Fatra mengisak sejadi-jadinya. Dialah satu-satunya muslim di Andalusia kala itu. Isak tangisnya terdengar oleh prajurit yang sedang patroli, akhirnya Fatra ditangkap dan diserahkan kepada Pangeran. Tak disangka, Fatra adalah pelayan yang pernah menumpahkan minuman dibaju pangeran. Wanita yang mempesona hati pangeran.
                Dilema dialami pangeran Fredich. Antara membunuh atau mengejar cintanya terhadap Fatra.
               


Rabu, 25 Desember 2013

sudut paandang

 ini adalah kata mutiara yang paling aku suka dari novel "To Kill a Mocking Bird"

 “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

 dari kata ini aku belajar memahami, bahwa kita tidak boleh menghakimi seseorang bahkan hanya sekedar berprasangka. karena kita tidak akan pernah tau bagaimana dan dengan cara apa dia memandang sesuatu. sekalipun sebagai psikolog. kita tidak akan benar-benar tau perasaaan orang lain sebelum kita 100% menjadi orang itu.

http://rfun.wordpress.com/2011/06/10/resensi-to-kill-a-mockingbird/

Sabtu, 18 Agustus 2012

lintang kemukus


   Trilogi_2 Ahmad Tohari 


  kepentingan politik suatu golongan mampu membakar desa yang tenteram. Gerakan yang mengatas namakan rakyat justru mencelakakan rakyat, menambah derita, masalah serta kemerlaratan bagi mereka.
       Berkata tentang penderitaan rakyat, imperialisme dan kolonialisme sementara rakyat sendiri tak merasakan apa yang mereka katakan. Ambisi pribadi kelompok politiklah yang menjajah rakyat. Dukuh paruk hangus, porakporanda, semakin miskin dan menderita.

Kamis, 05 Juli 2012

Arok Tak Sekedar Berandalan


    Arok merupakan anak angkat dari seorang petani yang juga seorang penjudi. Namun arok disekolahkan agar mendapat pendidikan. Karena sang ayah tau Temu atau Arok merupakan anak yang cerdas. Benarlah dugaan itu. Arok merupakan kategori murid pandai. Bahkan ia mendapat gelar sebagai seorang brahmana.
    Dalam kisah sejarah kerajaan Singasari Arok dikenal sebagai seorang berandalan atau perampok. begitulah kenyataannya. Tapi perbuatanya dilakukan karena ia tidak suka dengan pemerintahan akuwu tumapel yang sewenang-wenang dan menindas rakyat. Hasil rampokan juga tak dipergunakan untuk kepentingan pribadinya.
     Dalam kisah lain juga dijalaskan bahwa arok membunuh Mpu Gandrin setelah dibuatkan keris. Perlu diketahui bahwa Mpu Gandrin juga berminat atas tahta tumapel serta Parameswarinya. Mpu Gandrin juga merupakan orang yan berbahaya, karena dalam perjalanan mencaai tahta ia menggunakan politik devide at impera atau adu domba. Diam-diam seorang pemilik pabrik senjata sudah mempersiapkan segalanya. Memihak kepada semua pihak. Baik itu Kebo Ijo, Parameswari, dan Akuwu. Namun Arok seorang yang cerdas. Pandai menguasai keadaan. Ia mengerti bahwa Mpu Gandrin adalah orang yang berbahaya. Proses pembunuhan terhadap Mpu Gandrin tidak dibahas dalam karangan Pramoedya Ananta Toer.
    

Senin, 02 Juli 2012

Istri kedua Soekarno

Istri kedua Soekarno
          Suatu ketika Soekarno mengunjungi tanah Sunda untuk menuntut ilmu. Gelar Insinyur, itulah yang ia cari. Dia pergi ke Bandung dengan istrinya yaitu Utari, putri dari pemimpin Sarekat Islam, HOS Tjokro Amonoto. Kebetulan Pak Tjokro mengenal keluarga Sanusi yang bertempat tinggal di Bandung. Oleh karena itu beliau memberitahu bahwa Soekarno akan datang ke Bandung dan membutuhkan tempat tinggal. Namun Sanusi beserta istrinya tidak menemukan tempat tinggal yang dapat ditempati Soekarno. Oleh karena itu maka diusulkanlah agar mereka tinggal di rumah Sanusi sendiri untuk sementara. Inggit sempat keberatan karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Namun, akhirnya ia setuju juga.
          Sesampai Soekarno di Bandung dia sambut dengan hangat oleh pasangan suami istri itu. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Inggit merasa Soekarno adalah orang yang menyenangkan. Pembicaraan di antara mereka sangat cair.
ada kejanggalan yang dirasakan tuan rumah. Utari dan Soekarno meminta agar kamar mereka dipisah saja. Awalnya hal ini terasa aneh. Namun Soekarno menjelaskan bahwa sebenarnya di antara mereka belum terjadi hubungan suami istri. Utari dianggap sebagai adik semata. Tak ada rasa cinta terhadap Utari sebagai kekasih. Begitu pula dari sudut pandang Utari.
Sudah agak lama mereka menempati rumah Sanusi. Mereka ditawarkan untuk pindah agar mereka lebih leluasa. Tetapi Soekarno menolaknya dan meminta agar di izinkan tinggal di rumah mereka saja dengan alasan mereka merasa senaang tinggal disana. Lagi-lagi mereka menyetujuinya.
Kebersamaan dalam satu rumah nampaknya telah mempengaruhi hati seorang Soekarno. Kebaikan dan kelembutan hati Inggit mampu menggereakkan hati Soekarno. Hingga pada suatu malam ketika Kang Uci (Sanusi) sedang tidak ada di rumah Inggit bercengkrama dengan Soekarno di teras rumah. Pembicaraan berujung pada masalah hati mereka. Berawal dari penjelasan bahwa hubungannya dengan Utari yang tak lebih dari hubungan seorang saudara. Hingga pernyataan bahwa dia mencintai Inggit. Dia merasakan kedamaian jika bersama Inggit dan hal itu tak pernah ia dapatkan dari Utari. Janji-janji Soekarno kepada Inggit bahwa dia akan mengatakan niatnya kepada Kang Uci. Inggit tak mampu mengelak dari hasrat yang dirasakannya. Jadilah pembicaraan yang tak sekedar pembicaraan.
          Inggit mengutarakan niatnya baik-baik bahwa ia ingin bercerai dengan Kang Uci. Ternyata Soekarno sudah mengatakan terlebih dahulu kepada kang Uci  bahwa dia mencintai Inggit dan ingin menikahi Inggit. Akhirnya permintaan cerai dari Inggit dikabulkan asalkan menikah dengan Soekarno. Sementara Utari dikembalikan kepada keluarganya secara baik-baik agar tidak ada kesalah pahaman atau rasa tersinggung.
          Pernikahan Inggit dengan Soekarno berlangsung ketika Soekarno masih menajdi student. Secara otomatis tak ada nafkah yang dihasilkan oleh Soekarno. Dalam keadaan itu, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga termasuk biaya sekolah Soekarno. Usaha yang dilakukannya seperti menjual kue atau menerima jahitan. Inggit melakukan semua itu dengan sabar dan tanpa mengeluh. Harapannya adalah agar Soekarno segera mendapat gelar Insinyurnya. Karena ia yakin Soekarno adalah pemuda yang ditunggu oleh bangsa ini untuk menggapai kemerdekaan.
          Selepas Soearno mendapat gelar Insinyurnya mulailah ia menjalankan  misinya. Menggerakkan masyarakat agar mau merdeka. Tawaran pekerjaan dari pemerintahan kolonial ditolaknya demi mewujudkan Indonesia merdeka.
          Sudah mulai tampak bakat-bakat Soekarno sebagai pejuang revolusioner. Berorasi di berbagai tempat dilakoninya. Kegiatan itu juga mengancam nyawanya. Pemerintah kolonial mulai mencurugainya dan menganggapnya sebagai seorang yang berbahaya. Pembuangan demi pembuangan juga dirasakannya. Inggit selalu menemaninya dalam kondisi itu.
          Pembuangan terakhir bersama Inggit ialah ke Banda Niera. Di sana mereka tinggal berempat bersama kedua anak angkat mereka. Ratna Djuami anak angkat mereka yang pertama nampaknya senang tinggal di sana karena dia mendapatkan seorang teman yaitu Fatmawati. Keluarga Fatmawati meminta agar anaknya diperkenankan tinggal di rumah Soekarno agar dia mendapat pendidikan dari keluarga itu. Keberatan yang dirasa pasangan suami istri itu akhirnya padam oleh kegembiraan Djuami. Jadilah Fatmawati tinggal serumah dengan keluarga Soekarno.
          Ketenangan Inggit diusik oleh bisik-bisik tetangga. Rasa tak percaya dan juga penasaran menghampirinya. Kesalahannya meninggalkan rumah dalam beberapa hari sudah mulai tampak. Nampaknya ada sesuatu antara Soekarno dan Fatmawati. Kepergian Inggit memberi mereka kesempatan lebih luas. Inggit juga sempat mengintai keduanya. Kenyataan pahit didapatnya. Hingga tiba saat dimana Soekarno menyatakan kepada Inggit bahwa ia ingin memiliki keturunan. Memiliki generasi dari darah dagingnya sendiri. Sungguh ini adalah tamparan keras bagi Inggit. Kenapa tidak semasa di pembuangan sebelumnya sewaktu inggit masih belum beranjak 50 tahun pikir Inggit. Sudah jelas pula arah pembicaraan  Soekarno bahwa ia ingin menikah lagi. Alasan yang diberikan sungguh mengada-ngada dan tak masuk akal pikir Inggit. Tak terbayangkan betapa teririsnya hati Inggit. Setelah pengorbanan jiwa dan harta untuk Suaminya inilah yang ia dapat. Tak ia relakan dirinya utuk dimadu. Karena sangat pantang baginya dalam hal tersebut. Dengan kata lain perceraianlah jalan keluarnya. Perceraian akan diurus ketika sampai di Jawa.
          Seketika sampai di tanah Jawa mereka disambut oleh Ratna Djuami beserta keluarganya. Inilah saatnya ia mencurahkan isi hatinya kepada anaknya. Isi hati yang tertahan dan hanya terungkap oleh tangis. Djuami ikut menangis mendengar cerita ibunya. Ia sangat marah kepada Papinya. Namun keputusan itu sudah bulat. Rasa berdosa menyelimuti perasaan Djuami. Dia merasa dialah penyebab dari kejadian ini.
          Ketika sampai di Bandung mereka mengurus perceraian. Berakhirlah kisah rumah tangga Soekarno dan Inggit.
         
Note :
 jika ada kesalahan mohon kritik serta sarannya. Kisah menarik ini dapat dibaca di buku karangan Ramadhan K. H. “Kuantar Kegerbang”. Seperti judul buku itu, Inggit seperti seorang pengantar bagi Soekarno. Setelah Soekarno dikenal dan berpendidikan dileaskanlah ia. Direlakan Soekarno untuk bangsa ini.