Rabu, 31 Oktober 2012

Biarkan Aku Marah


Disaat ambisi tidak menjadi kenyataan
Dunia terasa runtuh
Emosi meluap tak terkira kadarnya
Semuanya normal-normal saja
Hanya perasaan ku yang tak normal
Hal kecil terasa besar
Sedikit saja ada kesalahan, langsung gunda hati dan perasaanku
Serasa dunia ini tak adil
Serasa penderitaan ini bertubi-tubi
Adakah yang mau mengerti keadaan ini?
Kenapa disaat aku meluapkan amarahku kalian semua menghidar
Adakah kalian mengerti? sebentaaar saja?
Biarkan aku marah,
Kepada siapa lagi aku marah jika tidak padamu
Orang yang kurasa tepat untuk berlari
Salahkah aku mejadikanmu pelarian?

Selasa, 30 Oktober 2012

Awal yang Buruk



            Ini yang pertama dan mengecewakan. Bagaimana perasaanku saat ini? kacau balau berantakan hancur berkeping-keping.
            UTS PIK (Pengantar Ilmu Komunikasi). Persiapan? Sudah dari  hari sebelum UTS sudah ku pelajari materi itu. Sepertinya gampang. Tidak ada baba yang aneh sepertinya. Dan ada buku.
            Penantian di depan mini teater benar-benar membuat jantung berdegup kencang. Seperti mengantri untuk dapet lotre. Sukur-sukur kalo beruntung pulang mesem. 
            Penantian memang jarang yang enak. Setelah menunggu, ternyata giliran ujian lisan keompok ku setelah UTS PPKn. Waw, tak terbayangkan. Setelah pusing dengan PPKn langsung berhadapan dengan muka dosen yang mengandung pertanyaan UTS. Hmmm… sepertinya tidak sesangar itu.
            Hamppir jam 12. Dosennya baru datang. Panggilan pun terdengar. Ought… benarkah aku hidup sekarang ini? semoga ini adalah ilusi belaka.
            Ini kenyataan ternyata. Awal memasuki mini theater merinding. Karena AC sih. Kemudian absen seta mengambil nomor pertanyaan. Firasat buruk pasti datang lagi dan lagi. Gak ada bosennya apa?.  Yasudah jalani saja. Apa yang akan terjadi saat ini?
            Pertanyaan pertama. Adalah aku. Karena aku adalah ketua. Oke-oke terserah kalian saja. Pertanyaanpun dibacakan.
            OM G 1000x. what the hell with that Question. Kenapa dapat pertanyaan macam itu. Terlebih aku todak menyadari kalau ternyata itu adalah pertanyaan. Kata orang-orang itu ngebleng. Halah apapun namanya pokoknya aku benci banged dengan ujian ini. tidak adil rasanya. Kalau itu memang pertanyaannya kenapa tidak langsung disebutkan. Saya jadi bingung. Kalau saya menjawab terbata-bata seperti ini kan jadi sangat menyebalkan. Berapa nilai sayaaa… tidak mencapai target. Semoga ada kemurahan hati dari Dosen yang tercinta.
            Awalnya tentu sangat menyesal, measa bodoh, dan sangat sedih teramat parah. Tapi apa boleh buat. I will do better in the next examination.  Mungkin ini peringatan untuk UTS yang lainnya bahwa diriku harus lebih hard lagi belajarnya. Semoga ini menjadi sebuat lecutan dan mengantarkan aku ke takdir baik. Amiiin.

Senin, 24 September 2012

Bodoh



Sudah mengerti ini tak akan mungkin
Tetap saja mengharap yang mustahil
Sudah pasti tak akan menjadi
Tetap saja berusha meraih
Alangkah bodoh
Peasaan ini sangat bodoh
Harusnya tinggalkan saja
Lupakan hingga tak ingat sedikitpun memori

Kacau balau otakku
Memikirkan keadaan yang Ternyata kenyataannya seperti ini
Memikirkan bahwa di penghujung takkan ada
Nama ku
Dalam lembaran kertas kebahagiaan…

Senin, 10 September 2012

Susahnya Mengajar




            Menjadi seorang guru? Kelihatannya sangat berat. Menangani murud-murid yang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.
            Hari minggu kemarin (9 September 2012) aku mengikuti sebuah kegiatan sosial di kampus, yaitu Unair Mengajar. Meskipun sebenarnya saya kurang bisa mengajar anak-anak, saya tetap memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan sosial ini. Saya ingin belajar mengajar dari Unair Mengajar. Mungkin tidak terlalu sulit, karena saya mendapat bagian kelas 4 SD.
            Sekitar pukul 9 acara sudah selesai di susun. Aku dan yang lain berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Aku penasaran di manakah lokasi kegiatan ini. Ku pelihara rasa penasaranku dalam boncengan senior ku sambil menikmati teriknya matahari Surabaya. Mungkin di suatu desa.
            Perjalanan lumayan jauh. Jalan-jalan sempit di seberang rel kereta api juga kita lewati. Bau busuk sampah mulai menyerang samar-samar. Di mana sebenarnya lokasi tujuannya? Tiba-tiba saja seniorku berhenti ketika masih di jalan samping rel kereta api. Kenapa ya? Apa motornya mogok? Ternyata tidak. Memang disinilah lokasi kegiatan Unair Mengajar. Benar-benar seperti acara di TV. Tempat tinggal berdampingan dengan rel kereta api, sungai yang kotor penuuh sampah, bahkan semilir angin di tengah kegerahan Surabaya pun berbau tak sedap. Bagaimana mereka menikmati hidup? Benar-benar miris aku melihatnya.
            Tiba juga saatnya perkenalan denagan anak-anak. Di sebuah sanggar sempit. Aku kagum sekali melihat mereka mau datang. Melihat wajah-wajah mereka yang tetap riang menjelang proses belajar mengajar. Aku mendapat satu siswa, Anis namanya. ternyata yang mengajar kelas empat ada dua orang. Jadi apa boleh buat, mau tidak mau pasti akan ada yang jadi pengangguran terselubung.
            Setelah siswa direkap dan diserahkan kepada para tutor, proses belajar mengajar siap dimulai. Pertama-tama aku serta Mbak Resti mengajar Anis mata pelajaran PKN. Pasti akan sangat mudah, pikirkku. Pelajaran anak kelas empat SD tak terlalu sulit menurutku. Memang benar begitu adanya. Tapi, tak ku sangka-sangka mengajari anak ini sangat susah. Membaca buku saja dia masih tidak lancar untuk ukuran anak kelas empat SD. Membaca tidak sesua dengan tanda baca. Bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan simpel seperti “siapakah yang memimpin desa” dia tidak tau. Aku bingung. Mbak Resti yang lebih banyak mengajari Anis. Aku sangat kagum. Karena mengajarkan hal kecil dan dianggap remeh ternyata sangatlah susah. Berlanjut dari pelajaran PKN ke Matematik. Aku senang sekali karena matematika adalah bidang ku. Pelajaran paling favorit. Pasti mudah matematika anak kelas empat SD. Seperti biasa Mbak Resti yang lebih dominan mengajar. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Sama saja dengan pelajaran yang awal. Anak ini kurang bisa menangkap. Perkalian saja dia lama. Apalagi pembagian dan pengurangan. Menghitung penjumlahan juga tidak cepat. Mbak Resti mengajari dengan menggunakan jari untuk menghitung. Sekali lagi aku terkagum. Partner ku ini sanga telaten dalam mengajari anak ini. Meskipun berkali-kali dia salah dan salah hitung. Mukanya juga terlihat jenuh. Tapi dia tetap menghitung. Sesekali aku ikut membantu, ternyata menirukan gaya bicara Mbak Resti tidak mudah. Berbicara kepada anak-anak dengan lembut memang susah. Dari situ aku belajar betapa susahnya mengajar. Terlebih mengajari anak-anak yang masih kurang. Guru yang hebat bukanlah guru yang mengajar murid pandai. Tapi sebaliknya. Karena murid yang pandai akan cepat menangkapa apa yang dikatakan Gurunya. Yang berarti seorang guru tidak perlu berusaha keras untuk berhasil mengajar.
           
           
           

Sabtu, 18 Agustus 2012

lintang kemukus


   Trilogi_2 Ahmad Tohari 


  kepentingan politik suatu golongan mampu membakar desa yang tenteram. Gerakan yang mengatas namakan rakyat justru mencelakakan rakyat, menambah derita, masalah serta kemerlaratan bagi mereka.
       Berkata tentang penderitaan rakyat, imperialisme dan kolonialisme sementara rakyat sendiri tak merasakan apa yang mereka katakan. Ambisi pribadi kelompok politiklah yang menjajah rakyat. Dukuh paruk hangus, porakporanda, semakin miskin dan menderita.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Anak-anak Punya Pendapat


            Segerombolan anak-anak tingkat sekolah dasar menamai geng mereka Chillar Party. Rumah mereka berdekatan. Selalu melakukan aktivitas bersama-sama. Disanding dengan humor dan kejahilan  yang menggelitik ala anak SD.
            Penghuni baru datang ke area kompleks mereka. Seorang anak(Kafta) berpenampilan seperti gelandangan dengan seekor anjing(Bidhu). Ia bekerja sebagai pencuci mobil. kedatangan Kafta sempat tidak disukai Chillar Party.
            Kejahilan mereka sekarang tertuju pada Kafta. Hingga mereka mengetahui fakta tentang Kafta. Berawal dari rasa iba hingga mereka menjadi satu geng. Bermain bersama dan saling menolong.
            Hingga terjadi peristiwa pada pesta perayaan jabatan. Ketika Mentri datang, salah satu orang dari rombongan Mentri mengusir Kafta karena ia terlihat seperti gelandangan. Bidhu, sang anjing serta merta menolong Kafta dengan mengertak pengawal Mentri. Dari sinilah semuanya berawal.
            Mentri memberlakukan kebijakan bebas anjing liar kecuali yang mendapat surat ijin. Untuk membuat itu dibutuhkan tanda tangan sebanyak 35 buah. Sementara Bidhu hanya mendapat 10 buah tanda tangan dari masing-masing orang tua Chillar Party. Tidak ada yang mendukkung usaha anak-anak ini. para orang tua tidak ingin berurusan dengan Mentri.  Orang tua mengenggap bahwa mereka hanya anak-anak. Tak perlu dipusingkan.
            Anak-anak ini punya tekat yang kuat untuk menolong sahabatnya yang tidak bersalah. Berawal dari membuat berita pada siaran radio bahwa ada anjing bisa berbicara, agar ada wartawan datang dan Bidhu terekspose. Tapi ini hanya sementara. Tidak ada pengaruh besar. Namun langkah berikutnya inilah yang menarik perhatian publik. Yaitu demonstrasi dengan mengenakan celana dalam saja. Meskipun hanya segelintir anak kecil tapi mereka mempengaruhi ribuan yang lain. perjuangan mereka tak kunjung padam sampai pada batas waktu yang ditentukan Mentri. Beribu-ribu anak mengikuti langkah mereka. Berdemonstrasi dengan menggunakan celana dalam dan menculik perhatian publik.
            Film ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki aspirasi yang perlu ditanggapi. Mereka punya pendapat, mereka punya perasaan sama saja seperti orang dewasa dan Anak-anak butuh dihargai dan didukung.


           

Selasa, 24 Juli 2012

Tahun Berapakah?

                   “Tahun berapakah saya lahir?” inilah pertanyaan yang sering kali tersirat dalam pikiran saya. Kepada siapa saya harus bertanya?. Tentu saja kepada orang tua. Tapi anehnya orang tuapun memiliki perbedaan pendapat. Ibu saya bilang saya lahir pada tahun 1994. Ayah saya bilang dengan sangat-sangat meyakinkan bahwa saya lahir tahun 1993. Saya jadi heran sendiri. Yang melahirkan siapa yang ngotot siapa.

                Di akte kelahiran saya sih tercantum 1993. Itu karena ayah saya yang mengurus pembuatannya. Maklumlah, akte dibuat ketika saya sudah gede.
                Sebenernya sih tak apa juga kalau seandainya tahun 1993. Tapi masalahnya. Tetangga sekaligus teman saya katanya lahir terlebih dulu dari pada saya. Tapi kenapa tahunnya duluan saya?. Hah… ada yang tidak beres dengan ayah saya.
                Pemberontakan dimulai. Setiap kali ada momen yang menyangkut tanggal lahir. Saya selalu menanyakan lagi dan lagi. Menyuruh mereka mengingat-ingat. Menghitung mundur atau apalah. Hingga pada suatu saat telah sampalah kepada keputusan yang berbahagia. Ternyata benar saya lahir pada tahun 1994. Senang juga menjadi lebih muda satu tahun. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semua dokumen-dokumen sudah memihak ayah saya. Dari ijazah SD sampai SMA. Hanya ijazah TK yang memiliki kebenaran yang sejati. Baik itu tahun lahir ataupun penulisan nama saya. Hanya saja ijazah TK tidak berguna untuk apapun. 
                Tak jarang teman-teman menanyakan tahun lahir. Dengan sabar saya menjawab disertai penjelasan. Tapi kenapa yang nanya ganti-ganti? Capek juga kali jelasin!!! Mau langsung bilang 1993 juga gengsi. Ketuaan. Tapi apa boleh buat. Huft… sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur…

Minggu, 08 Juli 2012

Dalam Boncengan

          "Ini namanya GOR dek... " jelas si kakak berceloteh tentang segala yang kami lewati ketika berkendara. Pengetahuannya tak habis-habis, pikirku. Tak ku lewatkan sepatah katapun lolos dari telingaku.Dari situlah kekagumanku muncul. Berawal dari sebuah tragedi ketinggalan kreta.
          Yah, pada awalnya aku hanya ingin pulang ke tanah kelahiranku. Semua urusan dengan SMA ku selesai sudah. saatnya pulang ke rumah. Mengingat ada seorang teman yang juga di daerah itu, aku ingin berkunjung. Usai berkunjung aku diantar ke halte depan kampus.
          Perasaanku tak enak sejak pagi hari. Entah apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa diam sambil melihat kiri-kanan dari dalam bus. Panorama kota Jakarta memang pantas menjadi magnet. Karena pembangunan di daerah-daerah benar-benar terasa kesenjagannya.
         Lamunanku terasa panjang dengan didukung kondisi macet parah di sepanjang jalan. Rupanya ini yang mengakibatkan kecemasanku sedari pagi. kretaku beangkat pukul 07.35 malam. Sementara aku masih berada di bundaran HI pukul 07.15. Benar saja perkiraanku. Aku tiba di stasiun pukul 07.40.
         Apa yang bisa dilakukan seorang gadis SMA sepertiku. Hanya meratapi dan bertanya-tanya. Pertanyaanku berakhir di Gambir. Tak ada jalan lain selain membeli tiket lagi. Benar-benar menipiskan kantong.
          Kemana aku akan pergi setelah ini. Hanya ada satu jawaban. Kembali ke tempat itu.
          Terlihat seorang melambai. Ku hampiri ia. Rupanya bantuan sudah datang. Syukurlah, keadaan tidak terlalu buruk.
          Dimulailah proses diriku menjadi kagum. melalui perbincangan yang kaku tak tau arah. Reda sudah kesedihanku. Bahkan aku merasa tenang, dan kagum. Senang rasanya berada dengan orang seperti ini. Seperti seorang sosok yang hendak muncul ke permukaan. Perbincangan di atas motor sudah cukup membuatku yakin seyakin-yakinnya.
          Sesampainya di tempat tujuan ternyata benar. Dia memang mengagumkan. Sibuk berorganisasi. Dia adalah gambaran impianku.
          Kembali pulang diantar dia pula. Seperti sebelumnya aku banyak bertanya seperti anak tolol. Dia selalu menjawab bak seorang pintar. Bertambahlah kekagumannku terhadapnya. Hingga kini sejak dalam boncengan.