Aku menemukan
buku ini ketika berjalan-jalan di kampong ilmu, jl. Semarang Surabaya, untuk
memenuhi rasa penasaranku terhadap tempat tersebut. Tak mahal, hanya dengan Rp.
15.000 saja aku bisa memiliki novel tersebut.
Judul : Badai Matahari Andalusia
Pengarang : Hary
El-Parsia
Halaman : 399
Tebal : 2 Cm
Penerbit : Diva
Press
Cetakan : 1
(2013)
Buku
ini mengisahkan tentang suatu zaman kelam bagi umat muslim di Eropa setelah 8
abad lamanya islam bertengger di Eropa. Setelah terjadi peristiwa kristenisasi
dan pembantaian besar-besaran di Andalusia, semua umat islam diharuskan
memilih, masuk Kristen, pergi dari tanah air, atau menetap dan islam tetapi di
bunuh dan disiksa.
Aku
tidak tahu pasti cerita di novel ini menceritakan keturunan Isabella ke berapa,
sepertinya bukan Raja Frederic dan Ratu Isabella, dua sejoli yang namanya
tertera dalam sejarah pembantaian islam. Raja yang memerintah adalah raja
Varest, ratu Juliana Fransisca Isabella dan putra mahkota Fredich.
Ketika
itu semua daerah kekuasaan sudah menganut ajaran Kristen, masing-masing desa
menyerahkan satu orang untuk menjadi pelayan di kerajaan Isabella. Namun,
ternyata ada satu desa bernama Desa Gheyhalda yang masih beragama islam, mereka
luput dari pembaptisan. Biar begitu mereka tetap mengirimkan satu orang untuk
menjadi pelayan istana agar keislaman mereka tidak diketahui. Pelayan istana
itu bernama Fatra.
Suatu
ketika, pangeran Fredich memerintahkan prajuritnya untuk menyelidiki seluruh
desa, dan memastikan bahwa mereka sudah menjadi penganut yesus. Kabar gembira
diterima Fredich, laporan prajuritnya menyatakan bahwa desa yang mereka
kunjungi sudah Kristen. Tapi ternyata laporan terakhir menyatakan bahwa ada
satu desa yang masih islam. Desa Gheyhalda sudah diketahui keislamannya. Setelah
Fredich mengetahui, dia murka dan mengerahkan pasukan yang dipimpin langsung
olehnya untuk melenyapkan desa Gheyhalda.
Warga
desa sudah habis, dipenggal, terkena sabetan pedang serta dibakar. Pasuka Fredich
hendak pulang dan merayakan kemenangannya. Pihak istana sudah menyiapkan pesta
yang begitu mewah dan gemerlap. Namun ditengah perjalanan pulang, Fredich
dihadang oleh Laskar Muslim Andalusia di tengah hutan, semangat mereka mampu
mengalahkan Fredich, namun Fredich belum mati. Dia bersembunyi dan sebagian
mencari bantuan dari istana. Raja mengerahkan 10.000 pasukan yang dipimpin oleh
Julian untuk menjemput pangeran. Tak gentar semangat Laskar Muslim, mereka
menyerang pasukan Julian, walau akhirnya mereka mati syahid karena ketidak
seimbangan kekuatan.
Fredich
pulang bersama Julian dengan selamat. Pesta digelar besar-besaran. Fatra sangat
sibuk mempersiapkan makanan di dapur, tanpa tau ada apa gerangan pihak kerajaan
mengadakan jamuan besar-besaran. Fatra hanya bekerja dengan tekun, dan
bersemangat Karena mala mini ia akan pulang mengunjungi keluarganya.
Fatra
pulang dimalam hari agar tidak ada orang yang tahu. Dia melewati hutan, dan
bertemu dengan tetangganya bernama Adlan, namun dengan kondisi sudah meninggal,
tidak hanya adlan, tetapi orang-orang muslim yang lainnya, Fatra berteriak
sekencang-kencangnya dan ingin segera pulang menceritakan kepada orang tua nya.
Ketiak melihat gapura, fatra merasa lega dan ingin segera pulang, ketika
memasuki gapura,… tak kuasa menuliskannya, fatra melihat mayat warga desa yang
terbunuh, dipenggal, dibakar oleh tentara Isabella. Fatra mengisak
sejadi-jadinya. Dialah satu-satunya muslim di Andalusia kala itu. Isak tangisnya
terdengar oleh prajurit yang sedang patroli, akhirnya Fatra ditangkap dan
diserahkan kepada Pangeran. Tak disangka, Fatra adalah pelayan yang pernah
menumpahkan minuman dibaju pangeran. Wanita yang mempesona hati pangeran.
Dilema
dialami pangeran Fredich. Antara membunuh atau mengejar cintanya terhadap
Fatra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar