Rabu, 28 Mei 2014
Unek-unek dari sosial media
sekarang aku akan bicara tentang perbedaan. yah.. seperti yang terjadi dinegara kita. fenomena dari kejadian multikulturalisme begitu beragam. entah itu perbedaan suku, budaya, agama, dll. ada yang baik-baik saja dengan perbedeaan, ada yang bermasalah hingga membunuh karena perbedaan. itu wajar, naluri dan sifat manusia, barangkali belum memiliki cukup kontrol. inilah PR kita, menjadikan indonesia saling mencintai, bisakah? bisa-bisa aja.
fenomena yang sering dijumpai mengenai perbedaan dan sosial media adalah perayaan natal. bagi yang muslim dilarang mengatakan selamat natal. terus kenapa? tiba-tiba banyak bermunculan orang bijak di sosial media. ada yang berargumen tentang gak bolehnya berucap selamat natal dengan diibaratkan suatu yang masuk akal. ada pula yang berpendapat itu sah-sah saja. sebenernya apa sih yang mereka perdebatkan? ini kan aturan agama, mau salah kek, mau benar, emang kenapa? ini bukan ilmu pengetahuan yang butuh dikritisi dan memunculkan teori baru. kenapa harus terjadi perdebatan gak penting. kalo mengatas namakan toleransi, kita membiarkan mereka merayakan dengan tenang saja uda toleransi kan. gak perlu ikut campur dan sok bijak. :)
kemudian, orang yang merasa mengerti tentang perbedaan. merasa perbedaan itu wajar kok. yah aku setuju, tapi aku setuju dengan perbedaan yang jelas. misalnya aku islam dan kamu kristen, udah jelas kita beda. yauda. tapi kalo remang-remang. seperti islam syiah, aku gak bisa, karena sejatinya mereka berbeda tapi ada embel-embel islam didepan, keyakinan dan kitab saja sudah berbeda (kalo gak salah sih, ini menurut yang aku baca) ya bilang saja kalo beda. beres. kalo NU Muhammadyah kan beda pada fiqih saja, sedang kan klo antara syiah sunni uda beda akidah (benarkan kalo salah), jadi ya we are different. itulah kenapa aliran sesat tidak dapat diterima, karena mengatakan sama padahal berbeda.
aku juga tidak suka seseorang yang membenarkan agama lain. aku percaya semua agama pada dasarnya menuju pada kebenaran, kebaikan. tapi aku meyakini agamaku yang benar dan gak peduli dengan agama lain. tapi seseorang diseberang sana, sampai memposting dengan ayat-ayat dari agama lain. harus begitu kah hingga anda dinyatakan anda bijak, toleransi, tidak menutup mata?. yah mungkin aku salah memahami, tapi aku tidak suka dengan orang yang remang-remang. dengan menyatakan bahwa ayat agama lain juga sama benarnya, apa itu tidak akan menimbulkan kesalahan persepsi, kesalahan tentang beragama, jika ternyata yang membaca mengira bahwa mengimani kitab lain itu boleh bagaimana? ada dosa yang anda tanggung loh, jadi yaudah lah, jangan sok bijak. tidak menyalahkan bukan berarti membenarkan. apalagi mempercayai.
pemilu? sama saja. orang itu membuatku geram. dia memposting kebaikan dari kedia capres dan keburukannya. katanya biar netral. walaupun sebenarnya orang tau dia dominan ke siapa. tapi ya gak usah lah sok bijak lagi, dan ternyata memilih untuk golput.
aku gak paham dengan kalian yang mengatas namakan toleransi sumpah, itu bukan toleran, tapi anda menjadikan diri anda abu-abu. gak jelas. bisa memihak kesiapa saja.
(ini hanya unek-unek)
#kondisiMarah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar