Selasa, 20 Mei 2014

Menulis adalah Seni


aku adalah pecinta kesenian, meski aku tak begitu menguasai. aku suka lukisan, aku suka menggambar, aku suka kerajinan tangan, aku suka musik, aku suka melihat desainer memamerkan baju buatannya, aku suka melihat orchestra. aku suka semua kesenian.
ketika aku masih di bangku MAN (SMA) aku ingat guru seni lukis pernah berkata bahwa melukis adalah seni, dalam lukisan itu ada makna tersendiri yang dibuat oleh pelukis, maka dari itu lukisan itu sangat berharga. berbeda ketika lukisan itu sudah dipesan, di dateline, keunikannya sudah hilang, lukisan tidak lagi memiliki makna yang unik. 

hingga sekarang kata-kata itu masi terngiang di benakku. sangat masuk akal. tapi sekarang aku sudah jarang menggambar, atau belajar kerajinan tangan.
kuliah jurusan Ilmu Komunikasi mengharuskan aku banyak menulis. aku merasa menulis sebenarnya juga sama dengan melukis, menulis adalah seni. terlebih jika tulisan itu berupa karangan. entah menulis berita, menulis berita future, intinya yang butuh kreativitas.
tulisan itu butuh emosi, karena ketika emosi itu terungkapkan aku yakin tulisan akan berkesan dan mampu menyentuh pembaca. emosi tidak harus marah, bisa bahagia, bingung, shock dll. 

pernahkah kamu mengalami kejadian yang sangat berkesan atau sangat menyebalkan dan ingin menuliskan pengalaman mu pada buku atau blog? tapi karena tidak sempat kamu menunda menulis nya. di hari yang lain kamu ingin menuliskan pengalaman itu karena dianggap sangat berharga tapi ternyata tidak terlalu menarik di baca bahkan susah menuangkan ke dalam tulisan. yah itulah kadang yang kualami. kenapa demikian? menurut pandangan subjektif ku, penyebabnya adalah emosi, ketika aku baru mendapat hadiah yang sangat ku sukai dan langsung menulis nya aku akan merasakan emosi bahagia ketika menulis, begitu pula dengan ketika patah hati, tapi jika menulis setelah hari itu, emosi sudah tidak dirasakan sebesar waktu kejadian sehingga emosi tidak nampak.

itulah kenapa aku sulit menuangkan ide dalam tugas kuliah, karena aku tidak memiliki ketertarikan terhadap tema yang diberikan, tapi ketika tema yang diberikan sangat dekat dengan kita, sesuai selera, pasti menulis akan dipenuhi dengan penghayatan sehingga orang tahu apa yang dirasakan penulis dan penulis pun menulis dengan segenap tenaga, semangat sehingga tulisan akan terlihat apik, sempurna.

jadi bagaimana agar emosi itu tumbuh? menurut subjektivitas ku lagi hehe... kita harus memperluas pengetahuan, dengan demikian wawasan kita akan terlibat dengan banyak hal, punya asosiasi dengan beragam fenomena, sehingga emosi akan tumbuh karena kita merasa mengetahui. contoh nya deklarasi capres 2014, bagi orang yang paham politik pasti ada emosi ketika melihat berita atau menuliskannya, tapi bagi mereka yang apolitis akan menganggap itu tidak penting dan tidak terjadi apa-apa.

untuk para penulis yang ingin memperindah tulisannya, mari kita mulai memperluas serta memperdalam wawasan, mari meluangkan waktu untuk membaca. dan tulisan mu akan semakin Mantabb, suangaaar, cetar membahana mengguncang dunia,,, asik banget kan pasti

(aku aja males baca, jadi begini deh tulisanku hahaha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar