aku adalah pecinta kesenian, meski aku tak begitu
menguasai. aku suka lukisan, aku suka menggambar, aku suka kerajinan tangan,
aku suka musik, aku suka melihat desainer memamerkan baju buatannya, aku suka
melihat orchestra. aku suka semua kesenian.
ketika aku masih di bangku MAN (SMA) aku ingat
guru seni lukis pernah berkata bahwa melukis adalah seni, dalam lukisan itu ada
makna tersendiri yang dibuat oleh pelukis, maka dari itu lukisan itu sangat
berharga. berbeda ketika lukisan itu sudah dipesan, di dateline, keunikannya
sudah hilang, lukisan tidak lagi memiliki makna yang unik.
hingga sekarang kata-kata itu masi terngiang di
benakku. sangat masuk akal. tapi sekarang aku sudah jarang menggambar, atau
belajar kerajinan tangan.
kuliah jurusan Ilmu Komunikasi mengharuskan aku
banyak menulis. aku merasa menulis sebenarnya juga sama dengan melukis, menulis
adalah seni. terlebih jika tulisan itu berupa karangan. entah menulis berita,
menulis berita future, intinya yang butuh kreativitas.
tulisan itu butuh emosi, karena ketika emosi itu
terungkapkan aku yakin tulisan akan berkesan dan mampu menyentuh pembaca. emosi
tidak harus marah, bisa bahagia, bingung, shock dll.
pernahkah kamu mengalami kejadian yang sangat
berkesan atau sangat menyebalkan dan ingin menuliskan pengalaman mu pada buku
atau blog? tapi karena tidak sempat kamu menunda menulis nya. di hari yang lain
kamu ingin menuliskan pengalaman itu karena dianggap sangat berharga tapi
ternyata tidak terlalu menarik di baca bahkan susah menuangkan ke dalam
tulisan. yah itulah kadang yang kualami. kenapa demikian? menurut pandangan
subjektif ku, penyebabnya adalah emosi, ketika aku baru mendapat hadiah yang
sangat ku sukai dan langsung menulis nya aku akan merasakan emosi bahagia
ketika menulis, begitu pula dengan ketika patah hati, tapi jika menulis setelah
hari itu, emosi sudah tidak dirasakan sebesar waktu kejadian sehingga emosi
tidak nampak.
itulah kenapa aku sulit menuangkan ide dalam
tugas kuliah, karena aku tidak memiliki ketertarikan terhadap tema yang
diberikan, tapi ketika tema yang diberikan sangat dekat dengan kita, sesuai
selera, pasti menulis akan dipenuhi dengan penghayatan sehingga orang tahu apa
yang dirasakan penulis dan penulis pun menulis dengan segenap tenaga, semangat
sehingga tulisan akan terlihat apik, sempurna.
jadi bagaimana agar emosi itu tumbuh? menurut subjektivitas ku lagi hehe... kita harus memperluas pengetahuan, dengan demikian wawasan kita akan terlibat dengan banyak hal, punya asosiasi dengan beragam fenomena, sehingga emosi akan tumbuh karena kita merasa mengetahui. contoh nya deklarasi capres 2014, bagi orang yang paham politik pasti ada emosi ketika melihat berita atau menuliskannya, tapi bagi mereka yang apolitis akan menganggap itu tidak penting dan tidak terjadi apa-apa.
untuk para penulis yang ingin memperindah tulisannya, mari kita mulai memperluas serta memperdalam wawasan, mari meluangkan waktu untuk membaca. dan tulisan mu akan semakin Mantabb, suangaaar, cetar membahana mengguncang dunia,,, asik banget kan pasti
(aku aja males baca, jadi begini deh tulisanku hahaha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar