Ketika kita menjalani studi,
biasanya kita memilih dengan jenis pekerjaan yang ingin kita capai. Kadang orang
juga bertanya “kalau jurusan ini kerjanya apa aja”. Jenis jurusan dan jenis
pekerjaan. Sekarang aku juga bingung mengenai hal itu.
Jurusan Ilmu Komunikasi. Apa sih
yang bisa diperbuat lulusan dari jurusan ini setelah lulus? Yang mainstream sih
jadi PR (Public Relations), atau jadi wartawan, kerja di Media, fotografer, dan
hal lain yang berhubungan dengan Ilmu Komunikasi, gak berhubungan juga gak papa
sih. Hehe
Yang pengen aku bahas dua aja yaitu
PR dan Wartawan. Pertama profesi sebagai
PR, aku juga ingin menjasi PR. Sepertinya keren. Ditunjang dengan kondisi
daerahku yang banyak berdiri perusahaan. Aku yakin meskipun kemampuanku tak
seberapa aku bisa tembus. Jabatan itu benar-benar menggiurkan. Bayangkan dirimu
menjadi bagian terpenting bagi existensi perusahaan. Kamu yang menjembatani
antara perusahaan dan public. Dengan manajemen komunikasi mu perusahaan bisa
tetap berdiri kokoh. Benar-benar keren.
Tapi, akhir-akhir ini aku merasa
aku tidak akan punya jiwa jika menjalani profesi itu. Apa gunanya? Gaji besar
(sepertinya) demi mendukung para kapitalis menjajah bumi milik rakyat. Melobi masyarakat,
memberikan mereka program CSR hanya untuk kesengsaraan mereka dalam masa
selanjutnya. Atau menjadi komunikator politik bagi mereka calon penghuni bui. Walau
tidak semua, tapi berapa banding berapa? Tidak sejalan dengan nuraniku.
Kedua adalah Wartawan. Ketika aku
bingung memutuskan jurusan aku bertanya kepada orang tuaku yang awan, jurusan
apa sekiranya bisa saya ambil. Jawaban mereka adalah “poko’e ojok dadi hakim
karo wartawan” (pokoknya jangan jadi hakim atau wartawan. Berarti keinginanku
ke jurusan Hukum sudah ku coret. Aku gak ngerti kenapa orang tuaku melarang ku
pada dua hal itu, ketika kutanyakan ternyata ada kaitannya dengan kepercayaan “akhirate
susah” jawab ayahku. Benar sekali, kasus di Indonesia banyak hakim pengacara,
tidak jujur. Wartawan?
Awalnya aku berfikir bahwa wartawan
itu juga mengagumkan, berani, skeptic, berwawasan luas, kerenlah pokoknya. Tapi
melihat kondisi Indonesia sekarang, omongan ayahku sudah terbukti di depan
mataku sendiri. Berita-berita yang kubeli nampaknya kebohongan belaka, sampah. Wartawan
sama saja dengan pegawai biasa yang menjalankan tugas berdasarkan keinginan
atasan. Benar salah lakukan saja demi rupiah. Ada juga omongan “mereka kn juga
nyari hidup”. Kalau memang begitu adanya, legalkan saja perampokan, pelacuran. Toh
sama-sama mencari hidup nya, sama-sama menggunakan cara kotor.
Pemberitaan Jokowi dengan image
positif yang dipaksakan secara terus menerus, media mendesak masyarakat
berpikiran positif kepada Jokowi dan menjadikannya Presiden RI. Keinginan siapa???
Tentu keinginan mereka yang punya gudang uang, keinginan majikan media, seperti
halnya budak, melakukan yang hina pun jadi demi rupih.
Lantas mau jadi apa aku ini?
Agak berat nih bahasan-nya ;)
BalasHapuskayak tukang timbangan aja bel, berat segala :D
BalasHapus