Selasa, 04 Februari 2014

Mau Jadi Apa?



Ketika kita menjalani studi, biasanya kita memilih dengan jenis pekerjaan yang ingin kita capai. Kadang orang juga bertanya “kalau jurusan ini kerjanya apa aja”. Jenis jurusan dan jenis pekerjaan. Sekarang aku juga bingung mengenai hal itu.
Jurusan Ilmu Komunikasi. Apa sih yang bisa diperbuat lulusan dari jurusan ini setelah lulus? Yang mainstream sih jadi PR (Public Relations), atau jadi wartawan, kerja di Media, fotografer, dan hal lain yang berhubungan dengan Ilmu Komunikasi, gak berhubungan juga gak papa sih. Hehe
Yang pengen aku bahas dua aja yaitu PR dan Wartawan.  Pertama profesi sebagai PR, aku juga ingin menjasi PR. Sepertinya keren. Ditunjang dengan kondisi daerahku yang banyak berdiri perusahaan. Aku yakin meskipun kemampuanku tak seberapa aku bisa tembus. Jabatan itu benar-benar menggiurkan. Bayangkan dirimu menjadi bagian terpenting bagi existensi perusahaan. Kamu yang menjembatani antara perusahaan dan public. Dengan manajemen komunikasi mu perusahaan bisa tetap berdiri kokoh. Benar-benar keren.
Tapi, akhir-akhir ini aku merasa aku tidak akan punya jiwa jika menjalani profesi itu. Apa gunanya? Gaji besar (sepertinya) demi mendukung para kapitalis menjajah bumi milik rakyat. Melobi masyarakat, memberikan mereka program CSR hanya untuk kesengsaraan mereka dalam masa selanjutnya. Atau menjadi komunikator politik bagi mereka calon penghuni bui. Walau tidak semua, tapi berapa banding berapa? Tidak sejalan dengan nuraniku.
Kedua adalah Wartawan. Ketika aku bingung memutuskan jurusan aku bertanya kepada orang tuaku yang awan, jurusan apa sekiranya bisa saya ambil. Jawaban mereka adalah “poko’e ojok dadi hakim karo wartawan” (pokoknya jangan jadi hakim atau wartawan. Berarti keinginanku ke jurusan Hukum sudah ku coret. Aku gak ngerti kenapa orang tuaku melarang ku pada dua hal itu, ketika kutanyakan ternyata ada kaitannya dengan kepercayaan “akhirate susah” jawab ayahku. Benar sekali, kasus di Indonesia banyak hakim pengacara, tidak jujur. Wartawan?
Awalnya aku berfikir bahwa wartawan itu juga mengagumkan, berani, skeptic, berwawasan luas, kerenlah pokoknya. Tapi melihat kondisi Indonesia sekarang, omongan ayahku sudah terbukti di depan mataku sendiri. Berita-berita yang kubeli nampaknya kebohongan belaka, sampah. Wartawan sama saja dengan pegawai biasa yang menjalankan tugas berdasarkan keinginan atasan. Benar salah lakukan saja demi rupiah. Ada juga omongan “mereka kn juga nyari hidup”. Kalau memang begitu adanya, legalkan saja perampokan, pelacuran. Toh sama-sama mencari hidup nya, sama-sama menggunakan cara kotor.
Pemberitaan Jokowi dengan image positif yang dipaksakan secara terus menerus, media mendesak masyarakat berpikiran positif kepada Jokowi dan menjadikannya Presiden RI. Keinginan siapa??? Tentu keinginan mereka yang punya gudang uang, keinginan majikan media, seperti halnya budak, melakukan yang hina pun jadi demi rupih.
Lantas mau jadi apa aku ini?

2 komentar: