Ketika ku baca Novel buah karya HAMKA yang mengharukan itu,
Tenggelamnya Kapal Vander wijk, suasana haru di hati sungguh tercipta. Bagaimana
mungkin tidak terharu mendapati Zainuddin yang terkapar sakit karena Cinta. Tapi,
itukan hanya novel, pasti sang penyair melebih-lebihkan cara menceritakannya .
itulah dugaanku dulu ketika membaca novel Tenggelamnya Kapal Vander wijk. Hanya
kasin dan membayangkan saja.
Beranjak kuliah, aku kenal tuh
siapa cinta. Senangnya dan juga sakitnya. Benar memang, kadang sakit karena
cinta bikin badan ikut sakit. Karena pada kondisi stress produksi asam lambung
menjadi meningkat, kadang penyakit mag, kalo akut bisa-bisa jalan ampek
sempoyongan. Bukan karena mabok miras, tapi karena gak bertenaga. Kalo kita
sakit biasanya oang tua nyuruh makan yang banyak. Klo uda terjangkit mag, makan
pun tak enak. Jadinya gak makan, atau makan dikit. Dari situ tubuh kita udah
lemah dari biasanya, pasti lebih gampang buat terserang penyakit. Klo kita
tetap pada keadaan meratapi stress atau patah hati, mati pun gampang. So, harus
ada kemauan untuk bangkit. Seperti yan dilakukan Zainuddin, menjadi penyair
terkenal dan meninggalkan kemiskinan serta kesakitan. Tapi sayangnya Zainuddin
dipertemukan lagi dengan rasa sakitnya yang pada akhirnya benar-benar menjadi
jalan kematiannya.
Apakah kita mau jadi seperti
Zainuddin di cerita itu? NO, aku gak mau. Hidup terasa sangat menyakitkan,
membunuhmu secara perlahan. Ada orang lain yang mengharapan kita, orang tua mu,
temanmu, siapapun itu. berntung kita masih punya mereka, tidak seperti
Zainuddin yang sebatang kara.
Jadi, berhati-hatilah dengan
cinta, walau cinta itu kadang tidak masuk akal, tetaplah gunakan pikiran waras kita. Walau stress tidak melulu berasal dari cinta, tapi memang itulah yang lebih sering mengganjal pikiran, klo stress gara2 organisasi aku masih dalam keadaan rasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar