Minggu, 17 Februari 2013

menanti sebuah kepastian


“Haruskah aku menikah sekarang?” inilah pertanyaan yang sering membuat hatiku gundah gulana. Rasanya asing sekali kata-kata itu. Jauh dari jangkauan pikiranku. Bagaimana tidak, sekarang aku baru saja semester dua awal.  Yah… umurku baru 19 tahun, aku belajar di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Surabaya.
Di sinilah semuanya berawal. Di kota ini. Surabaya yang mempertemukan aku dengan dia. Kami berasal dari SMA yang sama.Bukan, bukan SMA tapi MAN yang berlokasikan di Tangerang Selatan tepatnya sekolah yang selalu bisa dibanggakan atau terdapat yang namanya pride. Karena MAN tempatku adalah sekolah favorit maka siswa-siswa yang mendaftar berasal dari seluruh penjuru Indonesia, begitu pula lulusannya yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga luar negeri. Alumni di tiap daerah juga memiliki ikatan-ikatan untuk tetap menjaga silaturrahmi dengan para anggotanya.
Aku lulus MAN pada tahun 2012 yang merupakan angkatan ke-15. Seperti yang ku katakana tadi. aku melanjutkan study ku di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ternyata ada acara dari alumni, yaitu buka bersama. Dari acara ini kami mulai mengenal para alumni yang berlokasi di Jawa Timur khususnya Surabaya. Tidak banyak dan juga singkat saja. Ajang perkenalan ini juga tidak terlalu efektif karena memang waktunya yang singkat. Tapi cukup untuk sekedar mengetahui sebagian yang ada dan mau datang. Setelah acara itu kami angkatan 15 menginap di kontrakanku dan kembali pulang ke rumah masing-masing karena memang belum aktif kuliah.
Aku kembali ke Surabaya lagi untuk menjalani ospek dan berlanjut kuliah. Masa-masa ospek memang yang paling sulit. Dunia serasa neraka. Teman masih sedikit dan tidak tetap. Sementara anak-anak lainnya sudah punya teman tetap dari SMA masing-masing yang bisa di ajak kemana-mana dan tidak terpisahkan. Sementara aku masih seperti orang ling-lung yang hinggap di sembarang tempat dan orang. Haha… sungguh berasa orang aneh dan ingin mundur saja rasanya. Di tengah-tengah kebingunganku ini aku selalu online di media sosial, mengusik kegalauan dan melihat status-status penuh derita lainnya. Tiba-tiba ada chat dari seseorang yang baru. Siapa dia? Sepertinya aku mengenalnya. Tentu saja. Dia adalah kakak kelasku dari MAN yang sekarang sedang S2 di salah satu perguruan tinggi di Surabaya tapi berbeda denganku. Obrolan-obrolan ringan dan juga sedikit canda akhirnya membuat aku sedikit mengenal dia. Pernah pada suatu saat aku bercanda minta traktir, ternyata dia bersedia. Mengenai waktunya kapan? Tak kusangka ternyata segera terlaksana.
Pertemanan kecil ini cukup menghibur di tengah gundahku. Dia sangat humoris menurutku. Merasa punya keluarga di tengah bisingnya Surabaya. Alhamdulillah masih ada orang yang bisa kumintai tolong dan ada orang yang menjadi pengobat sedihku. Aku mulai ada rasa dengan Surabaya. Memang aku masih merasa tidak nyaman, namun ada hal lain yang sangat damai. Hingga suatu ketika terjadi sebuah kejadian. Aku membuat janji dengan dia, entah itu apa aku lupa. Tapi kala itu aku memang butuh hiburan dan sedang menganggur. Tapi ternyata dia tidak bisa menepati janjinya. Dia memberiku kabar sangat mendadak hingga aku baru tau ketika hari itu juga. Jujur aku marah dan dia bilang dia tidak berjanji. Aku menangis ketika ditelepon. Kecewa teramat sangat. Dia meminta maaf tapi tetap saja aku tidak bisa terima. Kemudian di malam harinya kita pergi makan ke salah satu tempat makan dengan ciri khas lele. Seusai makan dia bertanya kepadaku “kamu suka sama saya ya?”. Gubrakkk… apa-apaan ini. Kenapa jadi begini? Kemudian dia melanjutkan “iya, saya tau kok. Kamu gak bilang juga saya tau, dari kamu nangis-nangis tadi pagi, saya pikir.. wah ada yang nggak beres ini” ungkapnya. Aku terdiam. Kemudian menimpali “percuma juga kan aku bilang suka, kan kakak mau menikah. Apa gunanya? Ga ada kan???” balasku. “iya recana itu emng ada, tapi kan kita gak tau apa yang akan terjadi, yauda kita jadi adek kakak aja ya? Entah itu bisa jadi kamu kan juga gak tau”. Dari peristiwa itulah hubunganku menjadi semakin dekat tapi penuh dengan harap-harap cemas. Karena aku tidak pernah menginginkan sebuah hubungan hanya untuk bersenang-senang, tapi juga untuk masa yang berkelanjutan.
Memutuskan untuk menjalani saja hubungan yang ada dan membiarkannya tepap mengalir. Tapi akhirnya menyerah juga dan mengubah status hubungan menjadi berpacaran. Hari-hari ku jalani dengan penuh cita. Setiap hari selalu bahagia. Jalan-jalan bersama. Menemani kesana-kemari. Tidak ada sedihnya. Walaupun ada saja hal-hal kecil yang membuatku sedih, tapi aku tidak membahasnya dan membiarkan itu menjadi rahasia. Aku lebih senang membahas sesuatu yang membuat tawa di antara kita berdua. Semakin hari semakin mendalam. Hingga aku lupa jika hubungan ini seperti tak berorientasi. Harapanku semu. Setiap kali kita membahas masalah umur dia dan rencana menikahnya itu aku merasa sedih. Terlebih ketika dia pulang dalam rangka pernikahan adiknya. Selama dia pergi aku tersiksa dengan sikap dia yang sinis dan sangat menyiksa perasaanku. Selama seminggu aku menangisi kelakuannya itu. Aku menantinya di Surabaya. Dan dia datang dengan memutuskan hubungan kita. Apa yang bisa aku katakana? Di saat aku mulai berfikir kedepan dan sangat dalam tiba-tiba hubunganku kandas karena tidak adanya restu dari orang tuanya dan juga keharusan dia untuk segera menikah.
Meskipun sudah putus cinta, kita tetap berhubungan seperti tidak terjadi apa-apa. Hingga mungkin dia jenuh dan mencari kejelasan tentang kelanjutan hidupnya. Dia sudah harus menikah. Dan aku masih saja tidak memenuhi syarat. Bukan wanita sempurna yang siap menjadi pendamping hidup. Orang tuanya tetap tidak setuju. Dan aku semakin sakit. Benar-benar sakit raga ku. Sungguh ini pilihan yang teramat sulit. Kalau bukan dengan aku berarti dengan yang lain. Aku masih kuliah semester awal. Dan juga ketidak jelasan kelanjutan beasiswaku jikalah aku menikah. Lingkungan baru dan kesibukan baru. Semuanya terakumulasi dalam otak ku. Sedikit saja ada pesan darinya yang menyinggung hubungan ini aku langsung sensitif. Entah itu sekedar tangisan tak berarti hingga aku benar-benar sakit. Aku merasa sendiri. Meskipun di sekelilingku banyak orang tapi mereka tak terasa ada. Aku memikirkannya hanya sendiri. Ada orang tua yang menghawatirkanku dan selalu menasehatiku agar tidak usah terlalu berlebihan. Tapi ini sudah terlanjur ma… aku sudah terjatuh terlalu dalam. Maaf kan aku tidak bercerita. Aku merasa menderita maka dari itu aku tidak mau membuat orang tuaku merasakan penderitaan ini. Aku membayangkan dia bersama wanita lain, lagi-lagi meleleh air mataku. Lagi-lagi sesak dadaku. Hanya kepada Tuhan aku memohon dikala sakit dan sedihku. Siapkah aku menjalani kehidupan baru? Aku selalu berusaha mengkaji tentang kehidupan itu. Mempersuapkannya sebisaku. Tapi aku terlihat tidak ada perubahan di matanya. Usahaku lagi-lagi tak berharga. Seseorang hanya menilai dari apa yang mereka lihat saja. Sebenarnya aku letih dengan keadaan ini. Aku berusaha agar aku siap namun tidak ada kepastian akan restu dari orang tuanya. Sementara orang tuaku merestuiku jika memang jadi. Bukan tidak berat, tapi mereka adalah orang tua terbaik bagiku yang selalu bisa menjaga perasaan anak-anaknya. Orang tua yang tidak memikirkan egonya demi kebahagiaan anaknya. Inilah praktek althurism. Mereka selalu menyisihkan perasaan mereka sendiri hanya untuk memikirkan perasaanku. Sementara perasan ku tersita untuk dia. Hingga kini tetap menunggu kepastian darinya. Aku benar-benar tak sanggup jik harus berpisah. Andai aku bisa lahir lebih cepat. Hanya do’a-do’a kecil yang dapat aku panjatkan untuk masalahku ini. Bersiap untuk menghadapi keputusan apapun yang akan dilontarkan orang tuanya. Setengah sakit perasaanku menunggu. Tapi aku yakin Alloh bersamaku dan akan selalu bersamaku. Semoga segera kau beri aku kejelasan. Apakah aku harus menjadi pendampingmu di usiaku yang teramat muda ini? Ataukah aku akan melihatmu di damping orang yang akan mengakibatkan sayatan hati…

2 komentar:

  1. At the end, it's in God's hands. Just sit back and have faith in the decision He makes. Let God be God! Pahit memang, saat harus menerima kenyataan itu. namun, lebih pahit lagi ketika kita pura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi. saat kita bersenang-senang, mungkin kita tidak akan sadar bahwa saat itu adalah ujian dariNya, apakah kita mampu mengendalikan diri atau tidak. dan saat kita kesusahan, akan lebih mudah untuk menyadari kalau kita sedang diuji. Yang sabar ya deeeeeeew, jodoh pasti akan datang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. that's right, spt kata Tere Lye, "cinta sejati adalah melepaskan" so, if he is really my true love, no matter hor far.. . he will come back .. . thanks beelll :D

      Hapus