Selasa, 19 Februari 2013

Pembaharu Islam

     
(sang pencerah)
Oke, film ini emng udah lama, 3 tahun yang lalu (2010). Tapi gue tertarik buat mengulas seputar film ini. Sejarah yang tak patut dilupakan atas jasa para kyai yang berjuang membenarkan ajaran islam. cemoga bermanfaat :D
            Muhammad Darwis yang memiliki pandangan berbeda dari pemuda-pemuda lainnya mengenai islam. hidup pada lingkungan islam yang taat di masa penjajahan belanda.  Pada waktu itu ajaran islam teramat kuat. Masih tradisional dan sangat tertutup dengan unsur-unsur orang belanda karena dianggap barang orang kafir, jika menggunakan maka kafirlah dia.
            Kekentalan adat jawa masih amat terasa, seperti sesajen, perayaan upacara yang dianggap sakral, menghormati raja secara berlebihan dll. Keadaan ini tidak menimbulkan kecocokan pada hati seorang Darwis. Secara akal dia menolak adat serta budaya masyarakatnya ini. Betapa sulitnya islam jika seperti ini. Maka dari itu dia memutuskan untuk pergi haji ke Makkah serta mengkaji islam lebih dalam di sana. Islam yang “benar”.
            Sepulang Darwis dari haji dia mendapat nama baru yaitu Ahmad Dahlan. Tidak hanya nama yang berubah, tapi juga pemikiran tentang islam. berawal ketika ia hendak sholat di masjid besar, benar masjid ini menghadap barat, tapi bukan kiblat. Ternyata hampir semua masjid di Yogyakarta berkiblat salah. Bukan soal mudah menangani masalah ini. Protes sana-sini mengingat masyarakat yang masih tertutup pikirannya, begitu pula kyai nya. Pembenaran Dahlan yang menggunakan kompas serta peta dianggap kafir karena ada kyai yang pernah melihat barang seperti peta pada kantor belanda yang artinya itu barang milik orang kafir.
            Tidak ada yang setuju mengubah kiblat masjid. Hanya di masjid KH. Ahmad Dahlan sendiri saja yang menggunakan kiblat yang insyaalloh benar. Ternyata jamaah yang datang lumayan banyak, tentu saja berakibat pada kurangnya jamaah di masjid besar. Para kyai menjadi resah, “kesesatan” yang diajarkan Dahlan semakin menjadi-jadi saja. Melihat hal ini para kyai tidak hanya tinggal diam, dikirimlah utusan untuk menyampaikan surat, memohon agar langgar kidul milik Dahlan ditutup. Dahlan tidak mau dan melanjutkan langkahnya berdakwah membenarkan islam. Tapi a pa yang bisa diperbuat? Langgar dirobohkan warga. Peristiwa ini merupakan pukulan keras bagi Dahlan, berniat membenarkan islam dan menyelamatkan umat tapi hanya umpata kata kafir yang ia dapat dan sekarang langgarnya dirobohkan. Putus asa hingga ingin meninggalkan desa. Merasa tidak dibutuhkan lagi. Tapi ada saudaranya yang memintanya tetap tinggal dan meneruskan langkahnya berdakwah. Mereka menyerahkan hartanya untuk membangun kembali langgar yang dirobohkan, begitu pula istri dahlan yang menyumbangkan tabungannya dan tetap setia mendampingi suaminya.
            Bukan tanpa tantangan Dahlan menyanggupi untuk tetap tinggal. Berdakwah dan ditentang oleh kyai lainnya. Ketika ada yang mengadu tidak memiliki cukup uang untuk menikahkan anaknya serta membiayai upacaranya Dahlan menjawab bahwa upacara itu tidak wajib yang penting menikah secara sah, tidak terpaksa dan ada saksi. Begitu pula dengan keluhan selanjutnya dari orang yang akan memperingati syukuran saudaranya yang meninggal tetapi tidak memiliki cukup biaya untuk membuat makanan. Ternyata berita ini sampai pada telinga para kyai. Sekali lagi dia semakin ditentang karena dianggap menyederhanakan serta menggampangkn islam.
            Dahlan semakin mengenal organisasi. Bergabung dengan organisasi Budi Utomo. Dari situ dia mengenal sistem pendidikan di sekolah belanda dan berhasil menjadi guru agama di sekolah belanda. Melihat sekolah belanda Dahlan ingin mendirikan sekolah juga. Dari sini tantangan semakin gencar. Lagi-lagi kafir kafir dan kafir yang keluar dari mulut orang-orang. Menggunakan bangku dianggap kafir karena itu seperti sekolah belanda. Madrasah bukan seperti itu menurut pemikiran mereka. Tidak perlu bangku, papan tulis dan juga alat-alat lainnya. Tak kunjung reda protes-protes dari warga hingga ketika Dahlan berjalan dengan muridnya dia seperti di arak dengan ejekan kata kyai kafir. Hingga didirikannya organisasi Muhammadyah pertentangan itu semakin gencar karena lagi-lagi dia dianggap “sesat dan kafir”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar