(sang pencerah)
Oke, film ini emng udah lama, 3
tahun yang lalu (2010). Tapi gue tertarik buat mengulas seputar film ini. Sejarah yang
tak patut dilupakan atas jasa para kyai yang berjuang membenarkan ajaran islam. cemoga bermanfaat :D
Muhammad Darwis yang memiliki
pandangan berbeda dari pemuda-pemuda lainnya mengenai islam. hidup pada
lingkungan islam yang taat di masa penjajahan belanda. Pada waktu itu ajaran islam teramat kuat.
Masih tradisional dan sangat tertutup dengan unsur-unsur orang belanda karena
dianggap barang orang kafir, jika menggunakan maka kafirlah dia.
Kekentalan adat jawa masih amat
terasa, seperti sesajen, perayaan upacara yang dianggap sakral, menghormati
raja secara berlebihan dll. Keadaan ini tidak menimbulkan kecocokan pada hati
seorang Darwis. Secara akal dia menolak adat serta budaya masyarakatnya ini.
Betapa sulitnya islam jika seperti ini. Maka dari itu dia memutuskan untuk
pergi haji ke Makkah serta mengkaji islam lebih dalam di sana. Islam yang “benar”.
Sepulang Darwis dari haji dia
mendapat nama baru yaitu Ahmad Dahlan. Tidak hanya nama yang berubah, tapi juga
pemikiran tentang islam. berawal ketika ia hendak sholat di masjid besar, benar
masjid ini menghadap barat, tapi bukan kiblat. Ternyata hampir semua masjid di
Yogyakarta berkiblat salah. Bukan soal mudah menangani masalah ini. Protes
sana-sini mengingat masyarakat yang masih tertutup pikirannya, begitu pula kyai
nya. Pembenaran Dahlan yang menggunakan kompas serta peta dianggap kafir karena
ada kyai yang pernah melihat barang seperti peta pada kantor belanda yang
artinya itu barang milik orang kafir.
Tidak ada yang setuju mengubah
kiblat masjid. Hanya di masjid KH. Ahmad Dahlan sendiri saja yang menggunakan
kiblat yang insyaalloh benar. Ternyata jamaah yang datang lumayan banyak, tentu
saja berakibat pada kurangnya jamaah di masjid besar. Para kyai menjadi resah,
“kesesatan” yang diajarkan Dahlan semakin menjadi-jadi saja. Melihat hal ini
para kyai tidak hanya tinggal diam, dikirimlah utusan untuk menyampaikan surat,
memohon agar langgar kidul milik Dahlan ditutup. Dahlan tidak mau dan
melanjutkan langkahnya berdakwah membenarkan islam. Tapi a pa yang bisa
diperbuat? Langgar dirobohkan warga. Peristiwa ini merupakan pukulan keras bagi
Dahlan, berniat membenarkan islam dan menyelamatkan umat tapi hanya umpata kata
kafir yang ia dapat dan sekarang langgarnya dirobohkan. Putus asa hingga ingin
meninggalkan desa. Merasa tidak dibutuhkan lagi. Tapi ada saudaranya yang
memintanya tetap tinggal dan meneruskan langkahnya berdakwah. Mereka
menyerahkan hartanya untuk membangun kembali langgar yang dirobohkan, begitu
pula istri dahlan yang menyumbangkan tabungannya dan tetap setia mendampingi
suaminya.
Bukan tanpa tantangan Dahlan
menyanggupi untuk tetap tinggal. Berdakwah dan ditentang oleh kyai lainnya. Ketika
ada yang mengadu tidak memiliki cukup uang untuk menikahkan anaknya serta
membiayai upacaranya Dahlan menjawab bahwa upacara itu tidak wajib yang penting
menikah secara sah, tidak terpaksa dan ada saksi. Begitu pula dengan keluhan
selanjutnya dari orang yang akan memperingati syukuran saudaranya yang
meninggal tetapi tidak memiliki cukup biaya untuk membuat makanan. Ternyata
berita ini sampai pada telinga para kyai. Sekali lagi dia semakin ditentang
karena dianggap menyederhanakan serta menggampangkn islam.
Dahlan semakin mengenal organisasi.
Bergabung dengan organisasi Budi Utomo. Dari situ dia mengenal sistem
pendidikan di sekolah belanda dan berhasil menjadi guru agama di sekolah
belanda. Melihat sekolah belanda Dahlan ingin mendirikan sekolah juga. Dari
sini tantangan semakin gencar. Lagi-lagi kafir kafir dan kafir yang keluar dari
mulut orang-orang. Menggunakan bangku dianggap kafir karena itu seperti sekolah
belanda. Madrasah bukan seperti itu menurut pemikiran mereka. Tidak perlu
bangku, papan tulis dan juga alat-alat lainnya. Tak kunjung reda protes-protes
dari warga hingga ketika Dahlan berjalan dengan muridnya dia seperti di arak
dengan ejekan kata kyai kafir. Hingga didirikannya organisasi Muhammadyah
pertentangan itu semakin gencar karena lagi-lagi dia dianggap “sesat dan
kafir”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar