Selasa, 24 Juli 2012

Tahun Berapakah?

                   “Tahun berapakah saya lahir?” inilah pertanyaan yang sering kali tersirat dalam pikiran saya. Kepada siapa saya harus bertanya?. Tentu saja kepada orang tua. Tapi anehnya orang tuapun memiliki perbedaan pendapat. Ibu saya bilang saya lahir pada tahun 1994. Ayah saya bilang dengan sangat-sangat meyakinkan bahwa saya lahir tahun 1993. Saya jadi heran sendiri. Yang melahirkan siapa yang ngotot siapa.

                Di akte kelahiran saya sih tercantum 1993. Itu karena ayah saya yang mengurus pembuatannya. Maklumlah, akte dibuat ketika saya sudah gede.
                Sebenernya sih tak apa juga kalau seandainya tahun 1993. Tapi masalahnya. Tetangga sekaligus teman saya katanya lahir terlebih dulu dari pada saya. Tapi kenapa tahunnya duluan saya?. Hah… ada yang tidak beres dengan ayah saya.
                Pemberontakan dimulai. Setiap kali ada momen yang menyangkut tanggal lahir. Saya selalu menanyakan lagi dan lagi. Menyuruh mereka mengingat-ingat. Menghitung mundur atau apalah. Hingga pada suatu saat telah sampalah kepada keputusan yang berbahagia. Ternyata benar saya lahir pada tahun 1994. Senang juga menjadi lebih muda satu tahun. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Semua dokumen-dokumen sudah memihak ayah saya. Dari ijazah SD sampai SMA. Hanya ijazah TK yang memiliki kebenaran yang sejati. Baik itu tahun lahir ataupun penulisan nama saya. Hanya saja ijazah TK tidak berguna untuk apapun. 
                Tak jarang teman-teman menanyakan tahun lahir. Dengan sabar saya menjawab disertai penjelasan. Tapi kenapa yang nanya ganti-ganti? Capek juga kali jelasin!!! Mau langsung bilang 1993 juga gengsi. Ketuaan. Tapi apa boleh buat. Huft… sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur…

Minggu, 08 Juli 2012

Dalam Boncengan

          "Ini namanya GOR dek... " jelas si kakak berceloteh tentang segala yang kami lewati ketika berkendara. Pengetahuannya tak habis-habis, pikirku. Tak ku lewatkan sepatah katapun lolos dari telingaku.Dari situlah kekagumanku muncul. Berawal dari sebuah tragedi ketinggalan kreta.
          Yah, pada awalnya aku hanya ingin pulang ke tanah kelahiranku. Semua urusan dengan SMA ku selesai sudah. saatnya pulang ke rumah. Mengingat ada seorang teman yang juga di daerah itu, aku ingin berkunjung. Usai berkunjung aku diantar ke halte depan kampus.
          Perasaanku tak enak sejak pagi hari. Entah apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa diam sambil melihat kiri-kanan dari dalam bus. Panorama kota Jakarta memang pantas menjadi magnet. Karena pembangunan di daerah-daerah benar-benar terasa kesenjagannya.
         Lamunanku terasa panjang dengan didukung kondisi macet parah di sepanjang jalan. Rupanya ini yang mengakibatkan kecemasanku sedari pagi. kretaku beangkat pukul 07.35 malam. Sementara aku masih berada di bundaran HI pukul 07.15. Benar saja perkiraanku. Aku tiba di stasiun pukul 07.40.
         Apa yang bisa dilakukan seorang gadis SMA sepertiku. Hanya meratapi dan bertanya-tanya. Pertanyaanku berakhir di Gambir. Tak ada jalan lain selain membeli tiket lagi. Benar-benar menipiskan kantong.
          Kemana aku akan pergi setelah ini. Hanya ada satu jawaban. Kembali ke tempat itu.
          Terlihat seorang melambai. Ku hampiri ia. Rupanya bantuan sudah datang. Syukurlah, keadaan tidak terlalu buruk.
          Dimulailah proses diriku menjadi kagum. melalui perbincangan yang kaku tak tau arah. Reda sudah kesedihanku. Bahkan aku merasa tenang, dan kagum. Senang rasanya berada dengan orang seperti ini. Seperti seorang sosok yang hendak muncul ke permukaan. Perbincangan di atas motor sudah cukup membuatku yakin seyakin-yakinnya.
          Sesampainya di tempat tujuan ternyata benar. Dia memang mengagumkan. Sibuk berorganisasi. Dia adalah gambaran impianku.
          Kembali pulang diantar dia pula. Seperti sebelumnya aku banyak bertanya seperti anak tolol. Dia selalu menjawab bak seorang pintar. Bertambahlah kekagumannku terhadapnya. Hingga kini sejak dalam boncengan.

Jumat, 06 Juli 2012

Terima kasih ya Alloh

    Isu-isu, desas-desus tentang pengumuman SNMPTN cukup membuat hatiku ketar-ketir. Alhamdulillah. Terimakasih atas jawaban indah-Mu ya Alloh.
    Bunda, Ayah, Kakak, teman-teman, serta Guru-guruku tersayang... terimakasih atas bantuan yang telah kalian berikan.

ILMU KOMUNIKASI_UNAIR

Kamis, 05 Juli 2012

Arok Tak Sekedar Berandalan


    Arok merupakan anak angkat dari seorang petani yang juga seorang penjudi. Namun arok disekolahkan agar mendapat pendidikan. Karena sang ayah tau Temu atau Arok merupakan anak yang cerdas. Benarlah dugaan itu. Arok merupakan kategori murid pandai. Bahkan ia mendapat gelar sebagai seorang brahmana.
    Dalam kisah sejarah kerajaan Singasari Arok dikenal sebagai seorang berandalan atau perampok. begitulah kenyataannya. Tapi perbuatanya dilakukan karena ia tidak suka dengan pemerintahan akuwu tumapel yang sewenang-wenang dan menindas rakyat. Hasil rampokan juga tak dipergunakan untuk kepentingan pribadinya.
     Dalam kisah lain juga dijalaskan bahwa arok membunuh Mpu Gandrin setelah dibuatkan keris. Perlu diketahui bahwa Mpu Gandrin juga berminat atas tahta tumapel serta Parameswarinya. Mpu Gandrin juga merupakan orang yan berbahaya, karena dalam perjalanan mencaai tahta ia menggunakan politik devide at impera atau adu domba. Diam-diam seorang pemilik pabrik senjata sudah mempersiapkan segalanya. Memihak kepada semua pihak. Baik itu Kebo Ijo, Parameswari, dan Akuwu. Namun Arok seorang yang cerdas. Pandai menguasai keadaan. Ia mengerti bahwa Mpu Gandrin adalah orang yang berbahaya. Proses pembunuhan terhadap Mpu Gandrin tidak dibahas dalam karangan Pramoedya Ananta Toer.
    

Rabu, 04 Juli 2012

Ingin Ku Pegang Bintang


Bitang-bintang malam
Berkelap-kelip di angkasa raya
Cahaya… pantulan sinarmu
menyulut api dalam raga
Terkagum … terpanah oleh keindahanmu

Kupandang satu bintang disebelah sana
Alangkah indahnya
Tidakkah kau lihat aku
Pengagum rahasiamu
Ingin kugapai kau bintangku
Tapi tak pernah bisa

Datang lagi bintang yang lebih indah
Lagi-lagi ingin kugapai kau
Tapi tak bisa

Selalu ada banyak bintang di angkasa raya
Selalu ada keinginan dan rasa
Tapi kau benar bintang di angkasa raya
Tak bisa ku jangkau juga ku raba

Senin, 02 Juli 2012

Istri kedua Soekarno

Istri kedua Soekarno
          Suatu ketika Soekarno mengunjungi tanah Sunda untuk menuntut ilmu. Gelar Insinyur, itulah yang ia cari. Dia pergi ke Bandung dengan istrinya yaitu Utari, putri dari pemimpin Sarekat Islam, HOS Tjokro Amonoto. Kebetulan Pak Tjokro mengenal keluarga Sanusi yang bertempat tinggal di Bandung. Oleh karena itu beliau memberitahu bahwa Soekarno akan datang ke Bandung dan membutuhkan tempat tinggal. Namun Sanusi beserta istrinya tidak menemukan tempat tinggal yang dapat ditempati Soekarno. Oleh karena itu maka diusulkanlah agar mereka tinggal di rumah Sanusi sendiri untuk sementara. Inggit sempat keberatan karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Namun, akhirnya ia setuju juga.
          Sesampai Soekarno di Bandung dia sambut dengan hangat oleh pasangan suami istri itu. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Inggit merasa Soekarno adalah orang yang menyenangkan. Pembicaraan di antara mereka sangat cair.
ada kejanggalan yang dirasakan tuan rumah. Utari dan Soekarno meminta agar kamar mereka dipisah saja. Awalnya hal ini terasa aneh. Namun Soekarno menjelaskan bahwa sebenarnya di antara mereka belum terjadi hubungan suami istri. Utari dianggap sebagai adik semata. Tak ada rasa cinta terhadap Utari sebagai kekasih. Begitu pula dari sudut pandang Utari.
Sudah agak lama mereka menempati rumah Sanusi. Mereka ditawarkan untuk pindah agar mereka lebih leluasa. Tetapi Soekarno menolaknya dan meminta agar di izinkan tinggal di rumah mereka saja dengan alasan mereka merasa senaang tinggal disana. Lagi-lagi mereka menyetujuinya.
Kebersamaan dalam satu rumah nampaknya telah mempengaruhi hati seorang Soekarno. Kebaikan dan kelembutan hati Inggit mampu menggereakkan hati Soekarno. Hingga pada suatu malam ketika Kang Uci (Sanusi) sedang tidak ada di rumah Inggit bercengkrama dengan Soekarno di teras rumah. Pembicaraan berujung pada masalah hati mereka. Berawal dari penjelasan bahwa hubungannya dengan Utari yang tak lebih dari hubungan seorang saudara. Hingga pernyataan bahwa dia mencintai Inggit. Dia merasakan kedamaian jika bersama Inggit dan hal itu tak pernah ia dapatkan dari Utari. Janji-janji Soekarno kepada Inggit bahwa dia akan mengatakan niatnya kepada Kang Uci. Inggit tak mampu mengelak dari hasrat yang dirasakannya. Jadilah pembicaraan yang tak sekedar pembicaraan.
          Inggit mengutarakan niatnya baik-baik bahwa ia ingin bercerai dengan Kang Uci. Ternyata Soekarno sudah mengatakan terlebih dahulu kepada kang Uci  bahwa dia mencintai Inggit dan ingin menikahi Inggit. Akhirnya permintaan cerai dari Inggit dikabulkan asalkan menikah dengan Soekarno. Sementara Utari dikembalikan kepada keluarganya secara baik-baik agar tidak ada kesalah pahaman atau rasa tersinggung.
          Pernikahan Inggit dengan Soekarno berlangsung ketika Soekarno masih menajdi student. Secara otomatis tak ada nafkah yang dihasilkan oleh Soekarno. Dalam keadaan itu, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga termasuk biaya sekolah Soekarno. Usaha yang dilakukannya seperti menjual kue atau menerima jahitan. Inggit melakukan semua itu dengan sabar dan tanpa mengeluh. Harapannya adalah agar Soekarno segera mendapat gelar Insinyurnya. Karena ia yakin Soekarno adalah pemuda yang ditunggu oleh bangsa ini untuk menggapai kemerdekaan.
          Selepas Soearno mendapat gelar Insinyurnya mulailah ia menjalankan  misinya. Menggerakkan masyarakat agar mau merdeka. Tawaran pekerjaan dari pemerintahan kolonial ditolaknya demi mewujudkan Indonesia merdeka.
          Sudah mulai tampak bakat-bakat Soekarno sebagai pejuang revolusioner. Berorasi di berbagai tempat dilakoninya. Kegiatan itu juga mengancam nyawanya. Pemerintah kolonial mulai mencurugainya dan menganggapnya sebagai seorang yang berbahaya. Pembuangan demi pembuangan juga dirasakannya. Inggit selalu menemaninya dalam kondisi itu.
          Pembuangan terakhir bersama Inggit ialah ke Banda Niera. Di sana mereka tinggal berempat bersama kedua anak angkat mereka. Ratna Djuami anak angkat mereka yang pertama nampaknya senang tinggal di sana karena dia mendapatkan seorang teman yaitu Fatmawati. Keluarga Fatmawati meminta agar anaknya diperkenankan tinggal di rumah Soekarno agar dia mendapat pendidikan dari keluarga itu. Keberatan yang dirasa pasangan suami istri itu akhirnya padam oleh kegembiraan Djuami. Jadilah Fatmawati tinggal serumah dengan keluarga Soekarno.
          Ketenangan Inggit diusik oleh bisik-bisik tetangga. Rasa tak percaya dan juga penasaran menghampirinya. Kesalahannya meninggalkan rumah dalam beberapa hari sudah mulai tampak. Nampaknya ada sesuatu antara Soekarno dan Fatmawati. Kepergian Inggit memberi mereka kesempatan lebih luas. Inggit juga sempat mengintai keduanya. Kenyataan pahit didapatnya. Hingga tiba saat dimana Soekarno menyatakan kepada Inggit bahwa ia ingin memiliki keturunan. Memiliki generasi dari darah dagingnya sendiri. Sungguh ini adalah tamparan keras bagi Inggit. Kenapa tidak semasa di pembuangan sebelumnya sewaktu inggit masih belum beranjak 50 tahun pikir Inggit. Sudah jelas pula arah pembicaraan  Soekarno bahwa ia ingin menikah lagi. Alasan yang diberikan sungguh mengada-ngada dan tak masuk akal pikir Inggit. Tak terbayangkan betapa teririsnya hati Inggit. Setelah pengorbanan jiwa dan harta untuk Suaminya inilah yang ia dapat. Tak ia relakan dirinya utuk dimadu. Karena sangat pantang baginya dalam hal tersebut. Dengan kata lain perceraianlah jalan keluarnya. Perceraian akan diurus ketika sampai di Jawa.
          Seketika sampai di tanah Jawa mereka disambut oleh Ratna Djuami beserta keluarganya. Inilah saatnya ia mencurahkan isi hatinya kepada anaknya. Isi hati yang tertahan dan hanya terungkap oleh tangis. Djuami ikut menangis mendengar cerita ibunya. Ia sangat marah kepada Papinya. Namun keputusan itu sudah bulat. Rasa berdosa menyelimuti perasaan Djuami. Dia merasa dialah penyebab dari kejadian ini.
          Ketika sampai di Bandung mereka mengurus perceraian. Berakhirlah kisah rumah tangga Soekarno dan Inggit.
         
Note :
 jika ada kesalahan mohon kritik serta sarannya. Kisah menarik ini dapat dibaca di buku karangan Ramadhan K. H. “Kuantar Kegerbang”. Seperti judul buku itu, Inggit seperti seorang pengantar bagi Soekarno. Setelah Soekarno dikenal dan berpendidikan dileaskanlah ia. Direlakan Soekarno untuk bangsa ini.

         

DAMPAK PENGANGURAN


Menjalani har-hari yang miskin aktivitas membuat saya tergerak untuk mengingat-ingat kembali peljaran SMA kelas X tentang dampak pengangguran yang merupakan sub dari bab ketenagakerjaan. Berikut ulasannya.
                Pengangguran adalah kelompok angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan atau sedang menunggu pangglan untuk bekerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. Batas usia ini diatur dalam UU No. 20 Tahun 1999 Pasal 2 Ayat 2. Sementara menurut bank dunia angkatan kerja yaitu yang berusia antara 15-64 tahun.
                Jumlah angkatan kerja yang melebihi jumlah lapangan pekerjaan merupakan salah satu faktor penyebab pengangguran. Terlebih ditunjang dengan jumlah pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi.
                Kebutuhan masyarakat akan materi tidak akan terpenuhi jika mereka sedang dalam kondisi tidak memiliki pekerjaan yang berarti tidak memiliki penghasilan. Jika kondisi ini berkelanjutan, maka pengangguran akan membawa dampak-dampak yang merugikan bagi individu atau orang lain. Berikut adalah sebagia dari dampak-dampak pengengguran :
«  Dampak Ekonomi. Menurunnya pendapatan nasional karena penurunan hasil produksi. Nilai GDP (gross Domestic product) akan menurun dan pendapatan nasional akan berkurang bersamaan dengan turunnya standart hidup.
«  Dampak Sosial. Meningkatnya tingkat kejahatan, naiknya ketergantungan narkotika dan miras, naiknya masalah kesehatan, angka bunuh diri meningkat, retaknya hubungan rumah tangga karena kebutuhan tak lagi dapat terpenuhi, dan hilangnya harga diri serta kepercayaan diri seorang penganggur.
«  Dampak Individu dan Keluarga.
o   Keluarga : Mengalami keseulitan ekonomi serta permasalahan social karena pendapatan mereka hilang.
o    Individu : Hilangnya keterampilan bagi individu karena keahlian tidak terpakai, kurangnya motivasi dapat memperpanjang masa pengangguran, meningkatkan ketergantunga terhadap orang lain, dan terganggunya mental para penganggur.
Itulah sebagian dari dampak-dampak pengangguran. Kerugian yang diderita tak hanya oleh penganggur, tapi juga orang-orang disekitar serta Negara. Oleh karena itu pengangguran seharusnya mendapatkan perhatian yang serius.