Suatu ketika Soekarno mengunjungi tanah
Sunda untuk menuntut ilmu. Gelar Insinyur, itulah yang ia cari. Dia pergi ke
Bandung dengan istrinya yaitu Utari, putri dari pemimpin Sarekat Islam, HOS
Tjokro Amonoto. Kebetulan Pak Tjokro mengenal keluarga Sanusi yang bertempat
tinggal di Bandung. Oleh karena itu beliau memberitahu bahwa Soekarno akan
datang ke Bandung dan membutuhkan tempat tinggal. Namun Sanusi beserta istrinya
tidak menemukan tempat tinggal yang dapat ditempati Soekarno. Oleh karena itu
maka diusulkanlah agar mereka tinggal di rumah Sanusi sendiri untuk sementara.
Inggit sempat keberatan karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Namun,
akhirnya ia setuju juga.
Sesampai Soekarno di Bandung dia
sambut dengan hangat oleh pasangan suami istri itu. Mereka langsung
dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Inggit merasa Soekarno adalah orang yang
menyenangkan. Pembicaraan di antara mereka sangat cair.
ada
kejanggalan yang dirasakan tuan rumah. Utari dan Soekarno meminta agar kamar
mereka dipisah saja. Awalnya hal ini terasa aneh. Namun Soekarno menjelaskan
bahwa sebenarnya di antara mereka belum terjadi hubungan suami istri. Utari
dianggap sebagai adik semata. Tak ada rasa cinta terhadap Utari sebagai
kekasih. Begitu pula dari sudut pandang Utari.
Sudah
agak lama mereka menempati rumah Sanusi. Mereka ditawarkan untuk pindah agar
mereka lebih leluasa. Tetapi Soekarno menolaknya dan meminta agar di izinkan
tinggal di rumah mereka saja dengan alasan mereka merasa senaang tinggal
disana. Lagi-lagi mereka menyetujuinya.
Kebersamaan
dalam satu rumah nampaknya telah mempengaruhi hati seorang Soekarno. Kebaikan
dan kelembutan hati Inggit mampu menggereakkan hati Soekarno. Hingga pada suatu
malam ketika Kang Uci (Sanusi) sedang tidak ada di rumah Inggit bercengkrama
dengan Soekarno di teras rumah. Pembicaraan berujung pada masalah hati mereka.
Berawal dari penjelasan bahwa hubungannya dengan Utari yang tak lebih dari
hubungan seorang saudara. Hingga pernyataan bahwa dia mencintai Inggit. Dia
merasakan kedamaian jika bersama Inggit dan hal itu tak pernah ia dapatkan dari
Utari. Janji-janji Soekarno kepada Inggit bahwa dia akan mengatakan niatnya
kepada Kang Uci. Inggit tak mampu mengelak dari hasrat yang dirasakannya.
Jadilah pembicaraan yang tak sekedar pembicaraan.
Inggit mengutarakan niatnya baik-baik
bahwa ia ingin bercerai dengan Kang Uci. Ternyata Soekarno sudah mengatakan
terlebih dahulu kepada kang Uci bahwa
dia mencintai Inggit dan ingin menikahi Inggit. Akhirnya permintaan cerai dari
Inggit dikabulkan asalkan menikah dengan Soekarno. Sementara Utari dikembalikan
kepada keluarganya secara baik-baik agar tidak ada kesalah pahaman atau rasa
tersinggung.
Pernikahan Inggit dengan Soekarno
berlangsung ketika Soekarno masih menajdi student.
Secara otomatis tak ada nafkah yang dihasilkan oleh Soekarno. Dalam keadaan
itu, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga termasuk biaya sekolah
Soekarno. Usaha yang dilakukannya seperti menjual kue atau menerima jahitan.
Inggit melakukan semua itu dengan sabar dan tanpa mengeluh. Harapannya adalah
agar Soekarno segera mendapat gelar Insinyurnya. Karena ia yakin Soekarno
adalah pemuda yang ditunggu oleh bangsa ini untuk menggapai kemerdekaan.
Selepas Soearno mendapat gelar
Insinyurnya mulailah ia menjalankan
misinya. Menggerakkan masyarakat agar mau merdeka. Tawaran pekerjaan
dari pemerintahan kolonial ditolaknya demi mewujudkan Indonesia merdeka.
Sudah mulai tampak bakat-bakat
Soekarno sebagai pejuang revolusioner. Berorasi di berbagai tempat dilakoninya.
Kegiatan itu juga mengancam nyawanya. Pemerintah kolonial mulai mencurugainya
dan menganggapnya sebagai seorang yang berbahaya. Pembuangan demi pembuangan
juga dirasakannya. Inggit selalu menemaninya dalam kondisi itu.
Pembuangan terakhir bersama Inggit
ialah ke Banda Niera. Di
sana mereka tinggal berempat bersama kedua anak angkat mereka. Ratna Djuami anak
angkat mereka yang pertama nampaknya senang tinggal di sana karena dia
mendapatkan seorang teman yaitu Fatmawati. Keluarga Fatmawati meminta agar
anaknya diperkenankan tinggal di rumah Soekarno agar dia mendapat pendidikan
dari keluarga itu. Keberatan yang dirasa pasangan suami istri itu akhirnya
padam oleh kegembiraan Djuami. Jadilah Fatmawati tinggal serumah dengan
keluarga Soekarno.
Ketenangan Inggit diusik oleh
bisik-bisik tetangga. Rasa tak percaya dan juga penasaran menghampirinya.
Kesalahannya meninggalkan rumah dalam beberapa hari sudah mulai tampak.
Nampaknya ada sesuatu antara Soekarno dan Fatmawati. Kepergian Inggit memberi mereka
kesempatan lebih luas. Inggit juga sempat mengintai keduanya. Kenyataan pahit
didapatnya. Hingga tiba saat dimana Soekarno menyatakan kepada Inggit bahwa ia
ingin memiliki keturunan. Memiliki generasi dari darah dagingnya sendiri.
Sungguh ini adalah tamparan keras bagi Inggit. Kenapa tidak semasa di
pembuangan sebelumnya sewaktu inggit masih belum beranjak 50 tahun pikir Inggit.
Sudah jelas pula arah pembicaraan
Soekarno bahwa ia ingin menikah lagi. Alasan yang diberikan sungguh
mengada-ngada dan tak masuk akal pikir Inggit. Tak terbayangkan betapa
teririsnya hati Inggit. Setelah pengorbanan jiwa dan harta untuk Suaminya
inilah yang ia dapat. Tak ia relakan dirinya utuk dimadu. Karena sangat pantang
baginya dalam hal tersebut. Dengan kata lain perceraianlah jalan keluarnya.
Perceraian akan diurus ketika sampai di Jawa.
Seketika sampai di tanah Jawa mereka
disambut oleh Ratna Djuami beserta keluarganya. Inilah saatnya ia mencurahkan
isi hatinya kepada anaknya. Isi hati yang tertahan dan hanya terungkap oleh
tangis. Djuami ikut menangis mendengar cerita ibunya. Ia sangat marah kepada
Papinya. Namun keputusan itu sudah bulat. Rasa berdosa menyelimuti perasaan
Djuami. Dia merasa dialah penyebab dari kejadian ini.
Ketika sampai di Bandung mereka
mengurus perceraian. Berakhirlah kisah rumah tangga Soekarno dan Inggit.
Note
:
jika ada kesalahan mohon kritik serta
sarannya. Kisah menarik ini dapat dibaca di buku karangan Ramadhan K. H.
“Kuantar Kegerbang”. Seperti judul buku itu, Inggit seperti seorang pengantar
bagi Soekarno. Setelah Soekarno dikenal dan berpendidikan dileaskanlah ia.
Direlakan Soekarno untuk bangsa ini.