Suami saya adalah seorang anginer. Lulusan its, kerja sebagai peneliti. Sementara bidang keilmuan saya adalah ilmu sosial, saya alumni fisip unair (gaya pdhl barusan lulus). Tentang perbedaan keilmuan kami, so pasti juga berpengaruh dengan cara kita berpikir. Beda banget dah pokoknya. Awal2 nikah rasanya seperti perang dunia tiap hari. But, nggk selamanya, makin hari makin mereda kok. Perbedaan juga butuh waktu. Ok gpp. Tapi yg jd masalah tu...
Dia tau bbrpa hal, cara memanfaatkan sesuatu, dan juga itung2an matematika atau fisika dan entah apalah itu. Apa dia kreatif? Boleh juga dibilang gitu, dikit tapi ya hehe... So, setiap ada barang gak dipake, atau kardus bagus, bungkus makanan, kaleng atau benda2 tak berguna lainnya dia selalu mngatakan
"Jangan di buang, ini bisa dipake buat ini... Bla bla bla... "
Okhey... Saya nurut aja ya ... *krn saya percaya
Dan.. Semakin lama barang2 itu semakin banyakkk tapi niat untuk memprosesnya menjadi barang yang ia janjikan tidak kunjung ada. Jadilah rumah seperti penadah sampah. Hmmm... Kalau diingatkan? Kadang sibuk, ok gak mungkin. Klo longgar? Dikerjain kadang. Justru ini nih yg nyebelin, dikerjain tp setengah setengah. Akhirnya berceceran bikin berantakan. Kreatifitasnya pun tertunda entah dimana ujungnya.
Kalo ada barang bekas lg? Ya ulangi lagi dong.
" jgn dibuang ini bisa di jual... (Model baru)."
Seperti biasa... Barang2 menumpuk dengan balutan janji palsu. Jadilah rumah seperti sarang pemulung.
Kadang liat tipi yg DIY (do it your self) gitu.
"Aku pengen bikinin zafran mainan itu, tak bikin ah... "
Saya: "gausah! BELI AJA!"
PR seya sekarang, gimana cara mengeluarkan sampah2 itu dari rumah tanpa ada drama? *berfikir keras
Tidak ada komentar:
Posting Komentar