Ini
adalah kisah ku, bukan untuk mengenang seseorang karena dia bukan kenangan yang
bagus, bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun. Karena aku tidak bisa melihat
apapun selain tabir kebohongan
Ketika
aku masih di MTs, aku tidak terlalu mengenal teman laki-laki karena kelas nya
terpisah antara laki-laki dan perempuan. Aku hanya mengenal beberapa saja yang
sering terlihat di jalan pulang dan teman SD ku. Ketika menjelang UN aku
mendapat tambahan teman. Teman-teman yang hingga kini kuanggap teman dekat ku.
Waktu itu siswa
yang dianggap bisa dalam hal pelajaran di kumpulkan untuk dikasi bekal,
kemudian kita menyalurkan ke anak-anak se kelas. Yah semacam les oleh teman
sendiri. Selain itu kita juga mendapat tawaran untuk mendaftar di MAN ICS, jadi
lumayan sering bertemu.
Sepertinya waktu
di sekolah tidak kondusif. Beberapa teman mengajak untuk belajar bersama di
rumah teman ku yang berlokasi didepan rumah ku. Aku meng iyakan, kita beranggotakan
empat laki-laki dan dua perempuan. Di situ aku menuangkan kelebihan ku di
bidang matematika (itu dulu :X). kejadian itu berulang setiap harinya, lumayan
konsisten.
Hingga ada salah
seorang temanku yang mengirim sms dia suka pada ku, dan ingin aku jadi pacar
nya. Kemudian aku menolaknya, kemudian dia berkata bahwa pesan itu bukan dia
pengirimnya. Oke, aku percaya tidak apa-apa. Tapi kejadian ini berulang-ulang,
aku tidak tersentuh sama sekali, aku justru memandang dia lebih rendah dari
sebelumnya. Tidak hanya itu kebohongannya, bahkan hal-hal kecil yang tidak
perlu dikatakan dia mengatakan dengan berbohong. Celakanya teman-temannya member
tahuku. Aku terselamatkan dari prasangka buruk kepada teman-teman.
Aku tidak
merasakan apa-apa. Hingga aku lulus dari IC, pesan itu muncul lagi, namun di
pesan facebook. Namun kejadiannya sama,
dia berkilah setelah ditolak. Kenapa aku menolak, karena aku tidak suka dan aku
tahu dia berbohong.
Sejak itu aku
tidak lagi berhubungan baik, tapi entah kenapa kita bisa saling memaafkan (gak
merasa salah sih). Dan berkesempatan berbincang-bincang, aku bersyukur dia
sudah memiliki pacar. Sangat bersyukur.
Aku kaget dengan
salah-satu pernyatannya. Dia bercerita wabha dulu dia perna suka. Kemudian dia
menambahkan bukti-bukti peristiwa ini itu, kenapa dia mau belajar bersama
padahal rumahnya sangat jauh, yah, aku baru ingat dia pernah melakukan itu, aku
baru ingat ternyata dia seperti itu hanya pada ku. Aku ingat, tapi aku tak
merasakannya. Sama sekali tidak. Dan aku tidak merasa iba medengar ceritanya. Karena
aku pernah merasa dipermainkan dengan kebohongannya, bukan perasaan ku tapi
emosi ku. Tidak ada perasaan sama sekali dariku untuk nya. Dari dulu hingga
sekarang.
Jika cinta
menyapamu, dan kamu menginginkannya jangan sekali-kali menjadi pecundang. Tak akan
membuat seseorang simpati padamu.
Hingga kejujuran
menyapa hatiku dan aku merasakan kenyamanan dengan dia yang di Institut
seberang kampus ku:P

Tidak ada komentar:
Posting Komentar