Selasa, 01 Juli 2014

Ketika Cinta disembunyikan dengan kebohongan




                Ini adalah kisah ku, bukan untuk mengenang seseorang karena dia bukan kenangan yang bagus, bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun. Karena aku tidak bisa melihat apapun selain tabir kebohongan
                Ketika aku masih di MTs, aku tidak terlalu mengenal teman laki-laki karena kelas nya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Aku hanya mengenal beberapa saja yang sering terlihat di jalan pulang dan teman SD ku. Ketika menjelang UN aku mendapat tambahan teman. Teman-teman yang hingga kini kuanggap teman dekat ku.
Waktu itu siswa yang dianggap bisa dalam hal pelajaran di kumpulkan untuk dikasi bekal, kemudian kita menyalurkan ke anak-anak se kelas. Yah semacam les oleh teman sendiri. Selain itu kita juga mendapat tawaran untuk mendaftar di MAN ICS, jadi lumayan sering bertemu.
Sepertinya waktu di sekolah tidak kondusif. Beberapa teman mengajak untuk belajar bersama di rumah teman ku yang berlokasi didepan rumah ku. Aku meng iyakan, kita beranggotakan empat laki-laki dan dua perempuan. Di situ aku menuangkan kelebihan ku di bidang matematika (itu dulu :X). kejadian itu berulang setiap harinya, lumayan konsisten.
Hingga ada salah seorang temanku yang mengirim sms dia suka pada ku, dan ingin aku jadi pacar nya. Kemudian aku menolaknya, kemudian dia berkata bahwa pesan itu bukan dia pengirimnya. Oke, aku percaya tidak apa-apa. Tapi kejadian ini berulang-ulang, aku tidak tersentuh sama sekali, aku justru memandang dia lebih rendah dari sebelumnya. Tidak hanya itu kebohongannya, bahkan hal-hal kecil yang tidak perlu dikatakan dia mengatakan dengan berbohong. Celakanya teman-temannya member tahuku. Aku terselamatkan dari prasangka buruk kepada teman-teman.
Aku tidak merasakan apa-apa. Hingga aku lulus dari IC, pesan itu muncul lagi, namun di pesan facebook.  Namun kejadiannya sama, dia berkilah setelah ditolak. Kenapa aku menolak, karena aku tidak suka dan aku tahu dia berbohong.
Sejak itu aku tidak lagi berhubungan baik, tapi entah kenapa kita bisa saling memaafkan (gak merasa salah sih). Dan berkesempatan berbincang-bincang, aku bersyukur dia sudah memiliki pacar. Sangat bersyukur.
Aku kaget dengan salah-satu pernyatannya. Dia bercerita wabha dulu dia perna suka. Kemudian dia menambahkan bukti-bukti peristiwa ini itu, kenapa dia mau belajar bersama padahal rumahnya sangat jauh, yah, aku baru ingat dia pernah melakukan itu, aku baru ingat ternyata dia seperti itu hanya pada ku. Aku ingat, tapi aku tak merasakannya. Sama sekali tidak. Dan aku tidak merasa iba medengar ceritanya. Karena aku pernah merasa dipermainkan dengan kebohongannya, bukan perasaan ku tapi emosi ku. Tidak ada perasaan sama sekali dariku untuk nya. Dari dulu hingga sekarang.
Jika cinta menyapamu, dan kamu menginginkannya jangan sekali-kali menjadi pecundang. Tak akan membuat seseorang simpati padamu.
Hingga kejujuran menyapa hatiku dan aku merasakan kenyamanan dengan dia yang di Institut seberang kampus ku:P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar