Sabtu, 05 Juli 2014

Authoritas Menyebabkan kurang Kritis



beberapa hari lagi pilpres, rada muak sebenernya dengan postingan-postingan di sosial media, apalagi dari nomor dua.
kemaren aku nemuin status temen jurusanku yang membuatku teringat dengan teori komunikasi, tapi aku lupa itu bab apa. yang jelas temen ku itu berpendapat bahwa pak Prabowo itu sama aja dengan orde baru setelah dia menyimak status dosennya.
teori yang kumaksud itu intinya berbunyi kalau outhority, kepemilikan, membuat kita kurang kritis, tertipu, mudah percaya. dalam kasus ini sang author adalah dosen, yaitu author ilmu pengetahuan, dia dianggap mumpuni dalam hal akademis, ilmu pengetahuan, pengalaman dan sejenisnya.
padahal belum tentu sang dosen benar-benar tau serta objektif, tapi temenku udah terpengaruh dan bertaklid (mengikuti tanpa dasar). aku juga tidak tahu pasti apa yang menyebabkan pilihannya jatuh pada no. 2, jika boleh menerka, tapi jangan percaya karena aku benar2 tidak tahu secara pasti, tapi aku menduga berdasar firasat dan beberapa tanda.
di fakultas ini pernah ada korban yang di culik pada tahun 98. semua orang di fakultas pasti tau hal itu, karena tiap ospek selalu di informasikan. salah satu dari korban itu merupakan bagian dari prodi ku tahun itu. peristiwa 98 pasti tidak akan terlupa bagi mahasiswa yang mengalaminya, begitu pula bagi mahasiswa yang sudah menjadi tenaga pendidik di departemen ku. beliau mengalami, berteman (kalo gak salah) dengan korban. barangkali sudah tersenggol arit hati seorang mahasiswa, hingga luka yang tertutup tetap membekas, atau jangan-jangan tetap terbuka menganga.
sekali lagi aku tidak tahu pasti, ini hanya firasat dan tebakan atas tanda yang kulihat, bukan meramal, tapi menyimpulkan prilaku non verbal.
bagi ku mereka yang mengalami sudah tidak dapat objektif lagi, mereka mendukung karena membenci capres seberang. perasaan yang terluka tak bisa di suru logis, seberapa besar usaha menjelaskan pikiran objektif, sia-sia saja jika berhadapan dengan orang yang sakit hati dan menutup hati.
jika benar terkaan ku, maka sudah pasti profesi yang disandang membuat pesan menjadi kabur, apapun pesan yang kau sampaikan, jika kamu terkenal dan pintar, pasti diyakini benar, bahkan ketika kamu mengigau, kata-katamu bak ayat suci.
abaikan saja tulisan ini, karena sudah jelas ketidak jelasannya,
namun yang pasti, jangan mudah menerima pesan mentah2, tanpa saringan dan tanpa pengetahuan, meskipun yang berbicara profesor dengan ribuan gelar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar