Sabtu, 12 Juli 2014

Yang dEkat ternyata JauH



Saya tidak pernah menuntut apapun dari teman saya. Bagi mereka yang dekat, saya tidak menuntut untuk mengetahui semua masalah dan kesenangannya, ataupun silsilah secara detail. Semua itu terjadi dengan sendirinya. Begitu pula yang jauh.
Sharing informasi pribadi adalah kepercayaan. Jika kamu mendapatkannya maka kamu dipercaya. Entah kamu bukan teman dekat jika mendapat amanah cerita pribadi seseorang, itu artinya kamu dipercaya. Apakah hanya rahasia dari teman dekatmu saja yang kamu ketahui? Rasanya tidak. Terkadang yang dekat justru tak tahu apa-apa. Karena kita sangat mengenal justru membuat kita berhati-hati.
Teman bisa saja dekat atau jauh. Tapi itu hanya membedakan derajat keintiman yang biasa saja. bukan informasi penting yang akan diberikan, tapi antara banyak dan sedikit. Sedangkan informasi penting kubedakan melalui baik dan buruk seorang teman. Aku mengerti sisi buruk seseorang kenapa tak kuceritakan sesuatu. Aku juga memaklumi yang sebaliknya. Bahkan orang terdekat ku saat ini, aku tidak pernah memaksa dia untuk bercerita tentang semua masalahnya. Karena dia lebih tau kebaikan dirinya dan kepada diapa dia harus memberikan ceritanya.
Teman sekamarku Wanudya, aku tidak pernah menobatkan dia sebagai teman terbaikku, tapi aku hamper menumpahkan cerita apa saja pada dia meskipun itu rahasia yang tidak boleh diceritakan. Itu semua karena kepercayaan. Lantas, apakah karena merasa dekat, seseorang harus menuntu suatu kepercayaan padahal dia tidak layak?
Aku sebagai pemegang informasiku sendiri lebih tahu apa yang kurasakan dan apa yang membuat perasaan tetap stabil. Pantaskah orang lain dengan sudut pandang berbeda meneriakiku teman durhaka?   
ini adalah kenyataan dari teori social penetration yang kupelajari di komunikasi antar persona, yaitu ketika sharing informasi menentukan seberapa dekat kamu dengan seseorang.
kurasa kedekatan itu tidak semuanya kasat mata. mengaku dekat tapi tidak tau apa-apa tentang seseorang, artinya kedekatan sudah dibatasi oleh seseorang. kamu dilarang memasuki wilayah lebih dalam.

bukan jauh atau dekat, tapi dapat dipercaya atau tidak.
penghianatan teman dekat itu sudah banyak, tapi orang yang jujur dan dapat dipercaya tidak akan berkhianat

Sabtu, 05 Juli 2014

Authoritas Menyebabkan kurang Kritis



beberapa hari lagi pilpres, rada muak sebenernya dengan postingan-postingan di sosial media, apalagi dari nomor dua.
kemaren aku nemuin status temen jurusanku yang membuatku teringat dengan teori komunikasi, tapi aku lupa itu bab apa. yang jelas temen ku itu berpendapat bahwa pak Prabowo itu sama aja dengan orde baru setelah dia menyimak status dosennya.
teori yang kumaksud itu intinya berbunyi kalau outhority, kepemilikan, membuat kita kurang kritis, tertipu, mudah percaya. dalam kasus ini sang author adalah dosen, yaitu author ilmu pengetahuan, dia dianggap mumpuni dalam hal akademis, ilmu pengetahuan, pengalaman dan sejenisnya.
padahal belum tentu sang dosen benar-benar tau serta objektif, tapi temenku udah terpengaruh dan bertaklid (mengikuti tanpa dasar). aku juga tidak tahu pasti apa yang menyebabkan pilihannya jatuh pada no. 2, jika boleh menerka, tapi jangan percaya karena aku benar2 tidak tahu secara pasti, tapi aku menduga berdasar firasat dan beberapa tanda.
di fakultas ini pernah ada korban yang di culik pada tahun 98. semua orang di fakultas pasti tau hal itu, karena tiap ospek selalu di informasikan. salah satu dari korban itu merupakan bagian dari prodi ku tahun itu. peristiwa 98 pasti tidak akan terlupa bagi mahasiswa yang mengalaminya, begitu pula bagi mahasiswa yang sudah menjadi tenaga pendidik di departemen ku. beliau mengalami, berteman (kalo gak salah) dengan korban. barangkali sudah tersenggol arit hati seorang mahasiswa, hingga luka yang tertutup tetap membekas, atau jangan-jangan tetap terbuka menganga.
sekali lagi aku tidak tahu pasti, ini hanya firasat dan tebakan atas tanda yang kulihat, bukan meramal, tapi menyimpulkan prilaku non verbal.
bagi ku mereka yang mengalami sudah tidak dapat objektif lagi, mereka mendukung karena membenci capres seberang. perasaan yang terluka tak bisa di suru logis, seberapa besar usaha menjelaskan pikiran objektif, sia-sia saja jika berhadapan dengan orang yang sakit hati dan menutup hati.
jika benar terkaan ku, maka sudah pasti profesi yang disandang membuat pesan menjadi kabur, apapun pesan yang kau sampaikan, jika kamu terkenal dan pintar, pasti diyakini benar, bahkan ketika kamu mengigau, kata-katamu bak ayat suci.
abaikan saja tulisan ini, karena sudah jelas ketidak jelasannya,
namun yang pasti, jangan mudah menerima pesan mentah2, tanpa saringan dan tanpa pengetahuan, meskipun yang berbicara profesor dengan ribuan gelar

Selasa, 01 Juli 2014

Ketika Cinta disembunyikan dengan kebohongan




                Ini adalah kisah ku, bukan untuk mengenang seseorang karena dia bukan kenangan yang bagus, bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun. Karena aku tidak bisa melihat apapun selain tabir kebohongan
                Ketika aku masih di MTs, aku tidak terlalu mengenal teman laki-laki karena kelas nya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Aku hanya mengenal beberapa saja yang sering terlihat di jalan pulang dan teman SD ku. Ketika menjelang UN aku mendapat tambahan teman. Teman-teman yang hingga kini kuanggap teman dekat ku.
Waktu itu siswa yang dianggap bisa dalam hal pelajaran di kumpulkan untuk dikasi bekal, kemudian kita menyalurkan ke anak-anak se kelas. Yah semacam les oleh teman sendiri. Selain itu kita juga mendapat tawaran untuk mendaftar di MAN ICS, jadi lumayan sering bertemu.
Sepertinya waktu di sekolah tidak kondusif. Beberapa teman mengajak untuk belajar bersama di rumah teman ku yang berlokasi didepan rumah ku. Aku meng iyakan, kita beranggotakan empat laki-laki dan dua perempuan. Di situ aku menuangkan kelebihan ku di bidang matematika (itu dulu :X). kejadian itu berulang setiap harinya, lumayan konsisten.
Hingga ada salah seorang temanku yang mengirim sms dia suka pada ku, dan ingin aku jadi pacar nya. Kemudian aku menolaknya, kemudian dia berkata bahwa pesan itu bukan dia pengirimnya. Oke, aku percaya tidak apa-apa. Tapi kejadian ini berulang-ulang, aku tidak tersentuh sama sekali, aku justru memandang dia lebih rendah dari sebelumnya. Tidak hanya itu kebohongannya, bahkan hal-hal kecil yang tidak perlu dikatakan dia mengatakan dengan berbohong. Celakanya teman-temannya member tahuku. Aku terselamatkan dari prasangka buruk kepada teman-teman.
Aku tidak merasakan apa-apa. Hingga aku lulus dari IC, pesan itu muncul lagi, namun di pesan facebook.  Namun kejadiannya sama, dia berkilah setelah ditolak. Kenapa aku menolak, karena aku tidak suka dan aku tahu dia berbohong.
Sejak itu aku tidak lagi berhubungan baik, tapi entah kenapa kita bisa saling memaafkan (gak merasa salah sih). Dan berkesempatan berbincang-bincang, aku bersyukur dia sudah memiliki pacar. Sangat bersyukur.
Aku kaget dengan salah-satu pernyatannya. Dia bercerita wabha dulu dia perna suka. Kemudian dia menambahkan bukti-bukti peristiwa ini itu, kenapa dia mau belajar bersama padahal rumahnya sangat jauh, yah, aku baru ingat dia pernah melakukan itu, aku baru ingat ternyata dia seperti itu hanya pada ku. Aku ingat, tapi aku tak merasakannya. Sama sekali tidak. Dan aku tidak merasa iba medengar ceritanya. Karena aku pernah merasa dipermainkan dengan kebohongannya, bukan perasaan ku tapi emosi ku. Tidak ada perasaan sama sekali dariku untuk nya. Dari dulu hingga sekarang.
Jika cinta menyapamu, dan kamu menginginkannya jangan sekali-kali menjadi pecundang. Tak akan membuat seseorang simpati padamu.
Hingga kejujuran menyapa hatiku dan aku merasakan kenyamanan dengan dia yang di Institut seberang kampus ku:P