“Bangunan-bangunan
raksasa berdiri kokoh menunjukkan kemegahannya. Di sekeliling, tersebar
pemukiman penduduk yang sederhana. Menunjukkan kesenjangan antara para
kapitalis dan rakyat jelata, menunjukkan kekuatan kaum borjuis menguasai kota
ini. Udara panas karena faktor iklim dan juga industri menyelimuti Kota
Pasuruan. Gersangnya tanah di sebagian
area dari dulu hingga sekarang tak kunjung berubah. Sebagian lagi membentangkan
luasnya kesuburan tanah para petani.”
Berkembangnya industri di Pasuruan bisa dikatakan cukup
pesat terbukti dengan bangunannya yang mulai menjamur. Biasanya perusahaan ini
membuat kesepakatan dengan desa yang bersangkutan bahwa mereka (perusahaan red)
akan lebih mempertimbangkan masyarakat lokal dalam proses perekrutan dan
seleksi tenaga kerja. masyarakat banyak yang beralih dari sektor pertanian ke
sektor industri. Terlebih generasi muda yang baru lulus dari institusi
pendidikan lebih memilih bekerja di sektor industri dari pada sektor pertanian.
Walaupun peranan yang diambil masyarakat sebagian besar hanya sebatas sebagai
buruh pabrik karena pendidikan dan juga keahlian belum memenuhi keriteria jabatan selain buruh.
Berdirinya pabrik juga
memudahkan masyarakat di sekitar area pabrik
untuk mendapatkan pekerjaan. Ratusan tenaga buruh pada setiap pabriknya,
bahkan ribuan tenaga buruh dibutuhkan oleh setiap pabrik. Sementara pabrik yang
berdiri di Pasuruan berjumlah ratusan, dalam salah situs pandaan.info
menyebutkan jumlah perusahaan besar berbentuk Perseroan Terbatas di Kecamatan
Pandaan saja sebanyak 59 PT. Jumlah penduduk berdasarkan data BPS Kabupaten
Pasuruan menunjukkan angka 1.512.468 orang. Membludaknya jumlah penduduk
membuat pembangunan industri memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga
kerja yang cukup banyak, serta mengatasi pengangguran dan menjadi pemasukan
bagi daerah yang bersangkutan.
Berubahnya
matapencaharian dari sektor agraris ke sektor industri menunjukkan Kabupaten
Pasuruan mengalami proses urbanisasi. Yaitu proses pengkotaan” atau proses
perubahan suatu desa menjadi kota. (Suharto,
2002:149). Sedikit demi-sedikit
pertanian tergeser oleh industri yang lebih mencirikan masyarakat kota.
Proses urbanisasi
memang bisa dinilai positif, karena merupakan proses dari tahap masyarakat
tradisional menjadi masyarakat modern. Namun, perubahan dalam konteks ini dapat
dikatakan prematur, karena masyarakat belum siap dan belum disiapkan skill dan kemampuannya. Sektor industri
yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah msyarakat yang masih tradisional. Alhasil
masyarakat setempat hanya dapat menempati tenaga kasar. Berbeda dengan program
Orde Baru yaitu REPELITA, rancangan pembangunan lima tahun. Dalam program itu,
pembangunan dirancang secara bertahap. Misalnya petani meningkatkan hasil
produksinya dulu, alat-alat pertanian mulai moderen hingga akhirnya petani bisa
menghasilkan produk mereka sendiri. Ketika petani sudah memiliki alat produksi,
itu artinya mereka sudah bisa menjadi produsen barang jadi atau siap pakai.
Mereka yang memiliki usaha. Secara bertahap pula mindset petani berubah, yang awalnya
menjual bahan mentah menjadi bahan jadi,
mereka menjadi masyarakat industri atas industrinya sendiri. Tapi di Kabupaten
Pasuruan ini, masyarakat hanya menjadi budak dari industri asing yang
mengeksploitasi lahan mereka. Perubahan menuju masyarakat urban, namun pertanian
dari dulu hingga sekarang tetap saja tidak berubah. Kalaupun alat-alat
pertanian berubah juga tidak maksimal, karena mereka hanya mengerti bagaimana
memakai, bukan bagaimana memperbaiki jika terjadi kerusakan atau bisa disebut
involusi pertanian. Itu artinya kesenjangan masih tetap terjadi, antara
lingkungan yang masih tradisional dengan pabrik yang sudah modern.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasuruan dikatakan mengalami peningkatan
setiap tahunnya, termasuk yang tertinggi Jawa Timur. hal ini diungkapkan oleh
oleh Gubernur Jawa Timur, Seokarwo. Pernyataan yang dimuat oleh media online
Kabar-Anda.com ini dikatakan ketika peresmian PT Indolakto di Pasuruan. Penetapan
UMR (upah minimum regional) juga termasuk tinggi dibanding dengan daerah lain. Jika
memang benar kenyataannya seperti itu, untuk siapakah semua kabar berita dan
data-data ini disajikan? Sementara masyarakat Kabupaten Pasuruan sediri masih
jauh dari kata sejahtera. Pendidikan masih belum memadai, apalagi melek
pendidikan. Sarana serta infrastruktur masih sangat minim. Kriminalitas tidak
terkontrol, bahkan bisa dikatakan sangat mengerikan, pembunuhan demi merampas
sepeda bermotor sudah sangat lumrah. Hal ini tidak lain karena merak tidak
sejahtera, terlebih mereka yang menempati daerah gersang, otomatis tidak bisa
bercocok tanam. Apakah ini yang dimaksud perekonomian tumbuh tertinggi di Jawa
Timur?
Perubahan yang mereka
(pemerintah-red) amati mengalami kemajuan, namun perubahan yang mereka (rakyat
–red) rasakan mengalami kemunduran. Lapangan kerja terbuka lebar untuk warga,
namun kriteria bukan ditujukan kepada mereka. Perekrutan tenaga kerja yang
cukup banyak kemudian berujung PHK karena perusahaan beralih dari padat karya
atau menggunakan banyak tenaga kerja menjadi perusahaan yang padat modal.
Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu dijejali dengan
iming-iming lapangan pekerjaan. Tanpa membekali dengan ketearmpilan menciptakan
lapangan pekerjaan. Pendidikan pun juga tak bisa diandalkan. Pada akhirnya
masyarakat lokal hanya bisa menikmati secuil saja dari permainan para
kapitalis.
Melihat kejadian ini,
diharapkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan bisa mempertimbangkan lebih matang
lagi jika ada investasi di Kabupaten Pasuruan, karena akan berujung pada
eksploitasi alam dan manusia. Pertanian, SDM, dan juga pendidikan juga harus
diperhatikan dan dikembangkan dengan maksimal. Dengan begitu keuntungan akan
diperoleh semua pihak, baik masyarakat serta pemerintah dan berjangka panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar