Senin, 25 November 2013

Belum Siap Urbanisasi




Bangunan-bangunan raksasa berdiri kokoh menunjukkan kemegahannya. Di sekeliling, tersebar pemukiman penduduk yang sederhana. Menunjukkan kesenjangan antara para kapitalis dan rakyat jelata, menunjukkan kekuatan kaum borjuis menguasai kota ini. Udara panas karena faktor iklim dan juga industri menyelimuti Kota Pasuruan.  Gersangnya tanah di sebagian area dari dulu hingga sekarang tak kunjung berubah. Sebagian lagi membentangkan luasnya  kesuburan tanah para petani.”
Berkembangnya  industri di Pasuruan bisa dikatakan cukup pesat terbukti dengan bangunannya yang mulai menjamur. Biasanya perusahaan ini membuat kesepakatan dengan desa yang bersangkutan bahwa mereka (perusahaan red) akan lebih mempertimbangkan masyarakat lokal dalam proses perekrutan dan seleksi tenaga kerja. masyarakat banyak yang beralih dari sektor pertanian ke sektor industri. Terlebih generasi muda yang baru lulus dari institusi pendidikan lebih memilih bekerja di sektor industri dari pada sektor pertanian. Walaupun peranan yang diambil masyarakat sebagian besar hanya sebatas sebagai buruh pabrik karena pendidikan dan juga keahlian belum memenuhi keriteria  jabatan selain buruh.
Berdirinya pabrik juga memudahkan masyarakat di sekitar area pabrik  untuk mendapatkan pekerjaan. Ratusan tenaga buruh pada setiap pabriknya, bahkan ribuan tenaga buruh dibutuhkan oleh setiap pabrik. Sementara pabrik yang berdiri di Pasuruan berjumlah ratusan, dalam salah situs pandaan.info menyebutkan jumlah perusahaan besar berbentuk Perseroan Terbatas di Kecamatan Pandaan saja sebanyak 59 PT. Jumlah penduduk berdasarkan data BPS Kabupaten Pasuruan menunjukkan angka 1.512.468 orang. Membludaknya jumlah penduduk membuat pembangunan industri memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak, serta mengatasi pengangguran dan menjadi pemasukan bagi daerah yang bersangkutan.
Berubahnya matapencaharian dari sektor agraris ke sektor industri menunjukkan Kabupaten Pasuruan mengalami proses urbanisasi. Yaitu proses pengkotaan” atau proses perubahan suatu desa menjadi kota. (Suharto, 2002:149).  Sedikit demi-sedikit pertanian tergeser oleh industri yang lebih mencirikan masyarakat kota.
Proses urbanisasi memang bisa dinilai positif, karena merupakan proses dari tahap masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Namun, perubahan dalam konteks ini dapat dikatakan prematur, karena masyarakat belum siap dan belum disiapkan skill dan kemampuannya. Sektor industri yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah msyarakat yang masih tradisional. Alhasil masyarakat setempat hanya dapat menempati tenaga kasar. Berbeda dengan program Orde Baru yaitu REPELITA, rancangan pembangunan lima tahun. Dalam program itu, pembangunan dirancang secara bertahap. Misalnya petani meningkatkan hasil produksinya dulu, alat-alat pertanian mulai moderen hingga akhirnya petani bisa menghasilkan produk mereka sendiri. Ketika petani sudah memiliki alat produksi, itu artinya mereka sudah bisa menjadi produsen barang jadi atau siap pakai. Mereka yang memiliki usaha. Secara bertahap pula mindset petani berubah, yang awalnya menjual bahan mentah menjadi bahan jadi, mereka menjadi masyarakat industri atas industrinya sendiri. Tapi di Kabupaten Pasuruan ini, masyarakat hanya menjadi budak dari industri asing yang mengeksploitasi lahan mereka. Perubahan menuju masyarakat urban, namun pertanian dari dulu hingga sekarang tetap saja tidak berubah. Kalaupun alat-alat pertanian berubah juga tidak maksimal, karena mereka hanya mengerti bagaimana memakai, bukan bagaimana memperbaiki jika terjadi kerusakan atau bisa disebut involusi pertanian. Itu artinya kesenjangan masih tetap terjadi, antara lingkungan yang masih tradisional dengan pabrik yang sudah modern.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasuruan dikatakan mengalami peningkatan setiap tahunnya, termasuk yang tertinggi Jawa Timur. hal ini diungkapkan oleh oleh Gubernur Jawa Timur, Seokarwo. Pernyataan yang dimuat oleh media online Kabar-Anda.com ini dikatakan ketika peresmian PT Indolakto di Pasuruan. Penetapan UMR (upah minimum regional) juga termasuk tinggi dibanding dengan daerah lain. Jika memang benar kenyataannya seperti itu, untuk siapakah semua kabar berita dan data-data ini disajikan? Sementara masyarakat Kabupaten Pasuruan sediri masih jauh dari kata sejahtera. Pendidikan masih belum memadai, apalagi melek pendidikan. Sarana serta infrastruktur masih sangat minim. Kriminalitas tidak terkontrol, bahkan bisa dikatakan sangat mengerikan, pembunuhan demi merampas sepeda bermotor sudah sangat lumrah. Hal ini tidak lain karena merak tidak sejahtera, terlebih mereka yang menempati daerah gersang, otomatis tidak bisa bercocok tanam. Apakah ini yang dimaksud perekonomian tumbuh tertinggi di Jawa Timur?
Perubahan yang mereka (pemerintah-red) amati mengalami kemajuan, namun perubahan yang mereka (rakyat –red) rasakan mengalami kemunduran. Lapangan kerja terbuka lebar untuk warga, namun kriteria bukan ditujukan kepada mereka. Perekrutan tenaga kerja yang cukup banyak kemudian berujung PHK karena perusahaan beralih dari padat karya atau menggunakan banyak tenaga kerja menjadi perusahaan yang padat modal. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu dijejali dengan iming-iming lapangan pekerjaan. Tanpa membekali dengan ketearmpilan menciptakan lapangan pekerjaan. Pendidikan pun juga tak bisa diandalkan. Pada akhirnya masyarakat lokal hanya bisa menikmati secuil saja dari permainan para kapitalis. 
Melihat kejadian ini, diharapkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan bisa mempertimbangkan lebih matang lagi jika ada investasi di Kabupaten Pasuruan, karena akan berujung pada eksploitasi alam dan manusia. Pertanian, SDM, dan juga pendidikan juga harus diperhatikan dan dikembangkan dengan maksimal. Dengan begitu keuntungan akan diperoleh semua pihak, baik masyarakat serta pemerintah dan berjangka panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar