Selasa, 25 Agustus 2015

Asal komen

Di era digital dan serba internet ini, koran2 hampir semuanya memiliki akun di media sosial. Tujuannya pasti agar lebih banyak yang baca. Aku mengikuti beberapa saja dari akun2 itu, yang paling sering sih kompas, beritanya ampe banjir2 kali ya... Nggk berhenti2.
Karena berita ini dipublikasikan di sosmed, otomatis yg muncul cuma judul sama gambarnya aja. Dulu aku rajin sih baca2 ginian, abis itu liat2 komennya. Lucu2 juga. Apa lagi pas kampanye, euyy.. Bikin gemes. Yang unik dari kebanyakan komen adalah mereka yang nggk baca isi beritanya, langsung aja main komen hujat2 an, emosi, ngelawak, istighfar, pokoknya seru deh.. Lbih seru baca komen dr pd baca beritanya.

Kadang ada yang komen "baca dulu isinya baru komen". Sampe di capslock juga. Terus ada juga yg menghujat karena jadi pembaca kok bodoh banget. Isinya apa komennya apa. Secara gitu ya, judul berita kebanyakan nggk mencerninkan isinya, biasanya sih yg beritanya hot2 gitu, kyk tentang isu islam, gosip artis, politik, wes yg menyebabkan fitnah2 itu dah, seringnya sih saya nemu di *om*as.com. saya juga pernah ketipu, " inilah komentar ... Tentang hubungan ibunya dan ariel". Eh ternyata isinya dia nggk mau komentar, gimana nggk komat kamit mulut saya.

Kembali ke asal komen, dulu saya juga ketawa sambil ngebodoh2in orang yg asal komen dalam hati. Nggak nyambung blasss komennya, ngalor ngidul. Tapi... Masak iya sih mereka sepenuhnya salah. Saya kira selain pembaca, pembuat berita nya yang bermasalah. Kenapa pula mereka membuat judul yg provokatif, ya tentu buat jualan lah ya, sama buat jadi kompor. Berita buruk itu selalu jadi idaman media. Klo belum cukup buruk, dipelintir dikit kata2 nya sehingga jadi buruk secara tersirat. Saya rasa selain untuk menarik minat baca, judul yang mencla mencle ini juga bertujuan untuk menyesatkan pembaca. Karena faktanya, judul yang kontroversi lebih banyak langsung di komen dari pada di baca isinya. Ya wajarlah ya..   Kadang yang bersangkutan marah, misal idola politiknya di beritakan negatif. Langsung aja komen.

Mrnurut saya jurnalis macam ini tidak punya etika, karena judul yg ia kenakan bersifat menghasut, kompor, mencela, dan juga menimbulkab perpecahan. Walaupun secara tertulis tidak ada pelanggaran dari berita2 tersebut, apalagi yg sekelas pupuk kompos itu ya, makion lihai bikin beritanya. Contoh nya yg tadi "inilah komentar ..  Tentang hubungan ibunya dan airiel" isinya mbak nya bilang gini "aku kan kesini buat acara ... Jadi aku nggk mau komen tentang itu ya". Meskipun dia nggk komen tentang ibunya, tapi ia tetep ngasi komentar, yaitu nggk mau komentar. Pusing pala bebi ya, bikin berita  puter kanan kiri laris manis.

Di jaman ini uang yang berbicara, demi uang media rela melacurkan dirinya. Apa daya seorang jurnalis walaupun dia tidak ingin menulis berita spt itu, dia kan hanya pekerja dari sebuah korporasi, klo nggk sejalan ya pergi saja. Selain uang juga pemilik terkadang punya nilai yang ingin disisipkan dan juga dihancurkan.

Klo uda kayak gitu gimana pembaca nggk emosi, emang beritanya ditujukan untuk itu kok. So, pembaca kurang bijak itu hanya dampak dari kepentingan pribadi media. Tentu saja yang terlibat dalam pembuatan berita itu dosanya berat, karena secara tersirat ada unsur fitnah dalam berita. Pembacanya se nusantara pula. Tapi klo mereka percaya dosa sih. Hehe

Minggu, 23 Agustus 2015

Pedagang kecil nakal & kurang pelayanan?




Sebagai warga Negara indonesia kita pasti sering mendengar bahwa lebih baik membeli di pasar dari pada supermarket, mending di toko2 kecil dari pada di minimarket, biar uangnya nggak lari ke luar negeri. secara supermarket2 itu kebanyakan dimiliki oleh asing. Aku sendiri juga berpendapat sama. Aku senang kalau belanja di toko2 kecil karena biasanya harga lebih murah. Selain itu juga membantu pendapatan mereka. waktu di kos aku sering sekali membeli jajan, beras, makan, kadang sayur ke pedagang2 kecil. Ada rasa seneng juga setelah aku membeli, melihat betapa sepinya toko mereka, bahkan nenek2 penjual sayur dengan gerobak yang sangat sepi pembeli, gerobak yang harus didorong keliling gang. Membeli ke mereka itu rasanya seperti sedikit berguna saja.
Setelah aku menikah aku juga ingin menerapkan hal yang sama. Aku ingin mengurangi belanja ke super atau minimarket. Tapi karena aku nggak tau tempat2 jual sembako, sementara beli aja di minimarket terdekat. Sewaktu jalan-jalan aku iseng2 minta berhenti di toko kelontong untuk membeli beras. Lumayan murah dan kualitasnya nggak jauh beda sama yang di minimarket. Setelah beras habis, aku pun mengajak hubby ke toko itu lagi. Aku membeli 5 kg, dijadikan 2 bungkus, 3kg dan 2kg. karena mau dikasihkan pak tukang dekat rumah. Awalnya sih enjoy2 aja, tapi kok ada yang aneh ya sewaktu ibuk itu menimbang. Takaran pertama 3kg, karena timbalnya terbatas jadi dia memakai gula dan tepung sebagai ganti timbal. Timbale 1kg ditambah ½ kg timbal sama 2 bungkus tepung. Aku sih masih bingung, itu kan jumlahnya 2 ½ kg bukan 3kg. aku cukup tau mengenai timbang2an dan ukuran tepung ½ kg ¼ kg atau satu kg. karena dulu sebelum ibu ku sakit panjang aku pernah punya toko. Aku sering menggantikan ibu ketika tidak ada orang dirumah. tapi karena itu uda lama sekali jadi aku masih ragu, dugaannku benar atau salah. Pokoknya kalo variable angka dari berat tepung dan timbale aku utek2 hasilnya tetap nggak 3kg. adanya kurang atau lebih. Berlanjut ke bungkus ke dua, 2kg. klo yang ini aku rasa bener. Pas 2kg.
Dari situ aku aku mulai jengkel dan bĂȘte, mungkin aku terlihat masih kecil untuk membeli beras. Karena ibu itu menimbang dengan sangat santai terang2an, uda gitu pakai jelek2in seseorang. Ngasi rekomendasi berasnya juga aneh. Harganya rada naik. Aku pulang dengan perasaan bingung jengkel. Kayaknya aku dianggap bodoh sama ibuk itu, nggak ngerti timbang2an. Pas nyampek dirumah yang 2kg untuk dimasak. Ternyata nggak terlalu enak. Berasnya rada hancur. Ah kapok dah beli situ lagi. Niatnya baik, eh pas udah tau sering beli malah ditipu. Gimana pembeli nggak pada kabur klo gitu. Harga beda dikit sama di supermarket, tapi kualitasnya jelas.
Pengalaman lain ketika membeli buah2an, ada yang jutek nggak bisa ditawar, ada yang nakal harganya dinaikin, ada juga yang kualitasnya jelek. Yah mau gimana lagi ya, my hubby udah nggak mau lagi beli buah pinggir jalan, meskipun securang2nya mereka masih mahalan supermarket, tapi ada rasa kecewa yang sulit hilang. Akhirnya kita kalo beli buah selalu di super*nd* aja. Buahnya bagus, kalaupun busuk sama petugasnya dikasih tahu waktu nimbang, bisa tanya2 gimana cara mengetahui melon yang manis apa enggak. Dari situ kita jadi beralih sepenuhnya untuk beli buah, kecuali untuk kasus2 tertentu, missal kasian sama penjual, atau buah yang nggak ada di supermarket.
Untuk sayuran tetep beli di tukang sayur, karena harga nya beda jauuuh ya sama supermarket, belinya tiap hari lagi, bisa bangkrut domfet saya. Meskipun belinya ditukang sayur saya juga milih2, langganan saya ini warungnya jauh dari rumah, karena yang deket rumah lemot klo jual, nggak lihat orang ngantri, yang agresif diduluin, mukanya cemberut jarang senyum, ekspresi biasa aja nggak (kayaknya kalo ini udah dari sononya) kan saya jadi takut ya jadi pengen buru2, jadinya mending yang jauh tp nyaman hehe.
Mungkin selama ini kita tau yang menjadi kekuatan pedangan kecil adalah harganya. Tapi selain harga seharusnya mereka juga mengedepankan pelayanan yang baik dan juga kejujuran. Karena kecurangan hanya akan memberikan untung untuk sementara saja. sementara kejujuran dan juga pelayanan yang baik bisa membuat pembeli jadi loyal. Tapi ya jangan mahal2 juga sih hehe… tentunya nggak semua pedangan kecil itu nakal, cuman mereka yang tidak jujur menodai orang lain yang seprofesi dengan dia.
(postingan ini kok kayak emak2 banget ya hahaha… )