Aristokrasi jawa adalah sebuah pandangan yang menganggap bahwa etnis jawa adalah etnis yang menduduki strata paling atas. Tidak ada yang pantas memegang kekuasaan teratas kecuali suku jawa.
Dalam masyarakat Indonesia, aristokrasi jawa masih tertanam dengan rapi di benak masyarakat. Bagaimanapun keadaan Indonesia pemimpin harus tetap orang jawa. Seperti halnya pada era reformasi. B. J. Habibie menjadi presiden hanya karena dia menggantikan Soeharto bukan atas pilihan rakyat. Tak lama kemudian B. J. Habibie lengser. Peristiwa tersebut membuktikan betapa masyarakat Indonesia masih memegang teguh aristokrasi jawa. Namun apakah aristokrasi jawa itu salah?
Seperti kita tau sejak dahulu pulau jawa merupakan pulau yang paling ramai dibandingkan pulau-pulau yang lain di nusantara ini. pulau jawa merupakan pusat pemerintahan ketika penjajahan Hindia belanda. Pulau jawa merupakan daerah kekuasaan kerajaan besar yaitu Majapahit (kecuali padjadjaran). Hingga sekarang pulau jawa masih memegang ranking teratas untuk kategori pulau terpadat di Indonesia. Berbagai fasilitas umum terdapat di pulau jawa, baik itu dalam hal pelayanan kesehatan sarana hiburan maupun pendidikan. Keadaan inilah yang menjadikan pulau jawa sebagai magnet. Seorang yang menuntut ilmu ke pulau jawa dianggap lebih. Perpindahan penduduk ke pulau jawa baik itu dalam rangka mencari pekerjaan ataupun menjalani jenjangpendidikan tidak hanya berakhir pada tujuan semula para perantau. Terkadang mereka memilih untuk menikah dan berkeluarga denan orang jawa dan bermukim di jawa. Hal ini mengakibatkan pulau jawa semakin hari semakin padat terutama di daerah ibu kota. Selain memadat juga berpengaruh pada jumlah suku jawa di Indonesia. Suku jawa menjadi amat dominan. Jumlah masyarakat jawa yang dominan mengakibatkan orang jawa merasa bahwa dirinya adalah mayoritas.
Apa hubugan antara mayoritas dan aristokrasi jawa? Suatu bangsa pastilah akan nyaman jika dipimpin oleh seorang yan berasal dari bangsanya sendiri. Begitu pula orang jawa. Mungkin mereka menganggap bahwa pemimpin yang cocok untuk mereka adalah yang berasal dari suku jawa. Masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemimpin juga mayoritas orang jawa. Mungkin jenis suku yang sama akan membuat mereka merasa dimengerti. Ditambah dengan pemikiran masyarakat yang masih belum terbuka. Meskipun tidak keseluruhan dari masyarakat Indonesia. Namun mayoritas mereka masih berpikit sempit. Atau masih berpikir kedaerahan. Keadaan ini tidak dapat dipungkiri. Janganka keterbukaan, angka buta huruf saja masih tinggi. Perekonomian masih berkutat di sektor agraris. Seperti halnya ciri-ciri dari negara berkembang. keadaan yang demikian merupakan bukti bahwa rakyat Indonesia belum siap menanggalkan aristokrasi jawa lantaran memang pemikiran mereka masih kurang terbuka. Oleh karena itu kita juga tidak boleh menyalahkan aristokrasi jawa yang masih tertanam pada diri masyrakat jawa ataupun pada masyarakat yang lain. karena pendidikan yang merupakan pembuka mata bagi kaum-kaum yang masih melek tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Pendidikan masih saja menjadi sesuatu yang mahal dan dapat dijangkau oleh kalangan-kalangan tertentu saja.
Note : ini hanya sebuah opini seorang pelajar SMA. Jika terdapat kekeliruan mohon domaklumi. Karena opini ini hanya menurut sudut pandang pengarang. (dewi_Ch’s)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar