seorang teman bertanya kepada ku "kamu udah setahun menikah apa masih sering bertengkar?" "ya sering", "biasanya kenapa?" sulit nih jawabnya, secara kebanyakan ampe lupa. "ya banyak, hal-hal kecil aja bisa buat bertengkar, hanya karena aku nggak nutup saluran air di kamar mandi misalnya." betewe kenapa ya temen ku ini nanya2 gini? aku ditanya sambil keheranan. ada apa ini, pikirku. jangan-jangan aku mau dijadiin objek skripsi lagi, haha pede... lama-lama dia cerita klo saudaranya ada yang mau bercerai padahal masih 2 s/d 3 bulan menikah. si cewek yang minta cerai,.. entah jelasnya apa akar masalahnya.
tentang pertengkaran, aku sebenarnya juga tak suka dengan yang namanya perselisihan. terlebih pasanganku seringkali memaksakan pendapatnya. jika amarah sudah menggoda batinnya, kata-kata suci dari bibir siapapun tak akan masuk ke hatinya. pertama kali menikah, pertengkaran itu begitu sering. aku, yang tak becus mengurus rumah, memasak, dan bangun pagi menjadi amat tersiksa dengan pernikahan ini. aku seorang wanita yang bebas, seperti kebanyakan anak lainnya, yang terlampau dipercayai orang tuanya. masuk kedalam rumah tangga dengan seseorang yang penuh dengan aturan dari ibu yang mendidiknya. aku salah, dia marah, aku juga marah. dia salah, aku juga marah. siapapun yang salah, ketika saling menyalahkan dan ada emosi, disitu ada kemarahan dan pertengkaran. lantas apa yang kita lakukan?
kebanyakan orang, terlebih geneasi kinyis-kinyis masa kini mengandalkan perceraian untuk menyelesaikan masalah. lantas setelah bercerai, apa yang mau diperbuat? menjanda, menduda seumur hidup? menikah lagi? yakin nggak bakal ada pertengkaran?
jangan dibayangkan pertengkaran dalam pernikahan itu disebabkan karena batu besar. justru hal kecil yang tak pernah terbayang bisa menghancurkan harimu. contoh aku sendiri, dari jaman lahiran klo dibonceng naik motor nggak pernah pegang si pembonceng, selalu pegang motor, bisa bertumpu dengan kaki meskipun tidak berpegangan, intinya, tanpa pegangan aku bisa jaga diri, walau yang bonceng ugal-ugalan. setelah menikah ya tetep aja aku nggak pegangan, lagian nggak biasa juga. uda diingetin kadang lupa, namanya juga kebiasaan. terus dia bilang dengan nada serius sambil nyetir motor "kamu kenapa sih nggak mau pegangan??? malu ta punya suami kayak aku??" "enggak, ya cuma nggak biasa aja" "aku ini kan suami mu, ya dibiasain donggg. itu juga biar kamu aman, nggak jatoh. bla bla bla bla..." puanjang ciiiinnn... aku aja nggak kepikiran sama apa yang ia bilang tadi, aku hanya nggak terbiasa, klo pegangan justru mengganggu keseimbanganku "jadi aku ini ngganggu buat kamuuu" hati ku ber kata , "bacottt lu gangguuuu!!!!!" dalam hati aja, nggak usah keluar2, nanti makin panjang episodenya.kata2 yang patut disensor, tapi terpikir karena betapa nya dirinya....
kebayang nggak sih betapa nggak bersalahnya aku. kayak kesambet, nggak ada ujan nggak ada angin, tiba2 disamber petir. terus aku itu
suka nggak nutup botol sampo dan sabun, lupa nutup lubang air di kamar mandi, nggak biasa matiin lampu, suka lupa naro makanan ampe basi berkali-kali, nggak suka nutup makanan, suka makan sembarangan, ibadah kurang, boros klo pake sesuatu, suka ngilangin barang, suka ngeberesin barang seenaknya kadang dibuang padahal punya dia, kurang sadar sama benda-benda bahaya dan hal biasa lainnya. aku normal kok.
dan dia itu, teliti, suka nyimpen barang2 yang dirasa akan berguna entah kapan, makanan harus habis, nggak ada kata mubadzir, disiplin matiin lampu dan mengembalikan barang ke tempat semula. suka naro baju dimana-mana, sangat hati2 dengan keselamatan (duduk deket colokan listrik aja suru minggir), hati2 dengan makanan tak sehat, anti dengan msg, suka dengan larangan (nggak bole ini itu), sangat lebay tentang kesehatan, pokoknya susah nyari kesamaan.
semua bisa jadi bahan pertengkaran. klo ditanya muak apa enggak, aku pasti muak. rasanya pengen lari dari rumah. tapi sebagai manusia yang berakal, aku merasa aku harus belajar dari kesalahan. minta maaf saja walau nggak salah, jika memberi penjelasan adalah sesuatu yang tidak mungkin. karena menang dalam adu argumen tak akan membuat dia sadar bahwa kita benar, terkadang dia malah merasa terhina. yang paling penting dalam pertengkaran adalah meredakannya dulu. sementara simpan dulu ego. biarlah kita yang salah asal pertengkaran ini dapat disudahi. jika kepala mu dudah dingin, sudah saling memaafkan, baru bicara padanya bahwa sebenarnya seperti apa yang terjadi, apa kesalahan yang ia perbuat, tentunya jangan dengan nada menyalahkan, biasa saja.
ketika marah, duniamu hancur, pasanganmu adalah orang paling tercela di dunia, kamu menyesal memilih dia, banyak laki2 lain yang lebih dari dia, kamu merasa lebih baik tanpa laki-laki, dunia tidak adil, kamu ingat semua sifat buruk dan kesalahannya sampai cela kecilnya, tak ada kebaikan yang bisa dilihat dari dirinya.
ketika amarah itu memuncak cobalah tenang sedikit dan gunakan akal sehat, bersabar, jangan minta cerai2an dulu, maaf2an aja dulu, klo uda saling memaafkan dan saling mengalah, pasti bayangan2 tadi hilang, angan2 mau bercerai seolah hanya ide konyol murahan,
kesalahan dan pertengkaran adalah alat ukur. jika hanya karena kesalahan dan kekurangan seseorang pergi, maka dia hanya ingin menikmati baiknya kita saja, hidup ini nggak instant kayak negeri dongeng. tapi lebih rumit. jangan menjalaninya dengan rumit.
prinsipku sih, yang penting bukan karena pihak ketiga aja.