Senin, 24 September 2012

Bodoh



Sudah mengerti ini tak akan mungkin
Tetap saja mengharap yang mustahil
Sudah pasti tak akan menjadi
Tetap saja berusha meraih
Alangkah bodoh
Peasaan ini sangat bodoh
Harusnya tinggalkan saja
Lupakan hingga tak ingat sedikitpun memori

Kacau balau otakku
Memikirkan keadaan yang Ternyata kenyataannya seperti ini
Memikirkan bahwa di penghujung takkan ada
Nama ku
Dalam lembaran kertas kebahagiaan…

Senin, 10 September 2012

Susahnya Mengajar




            Menjadi seorang guru? Kelihatannya sangat berat. Menangani murud-murid yang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.
            Hari minggu kemarin (9 September 2012) aku mengikuti sebuah kegiatan sosial di kampus, yaitu Unair Mengajar. Meskipun sebenarnya saya kurang bisa mengajar anak-anak, saya tetap memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan sosial ini. Saya ingin belajar mengajar dari Unair Mengajar. Mungkin tidak terlalu sulit, karena saya mendapat bagian kelas 4 SD.
            Sekitar pukul 9 acara sudah selesai di susun. Aku dan yang lain berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Aku penasaran di manakah lokasi kegiatan ini. Ku pelihara rasa penasaranku dalam boncengan senior ku sambil menikmati teriknya matahari Surabaya. Mungkin di suatu desa.
            Perjalanan lumayan jauh. Jalan-jalan sempit di seberang rel kereta api juga kita lewati. Bau busuk sampah mulai menyerang samar-samar. Di mana sebenarnya lokasi tujuannya? Tiba-tiba saja seniorku berhenti ketika masih di jalan samping rel kereta api. Kenapa ya? Apa motornya mogok? Ternyata tidak. Memang disinilah lokasi kegiatan Unair Mengajar. Benar-benar seperti acara di TV. Tempat tinggal berdampingan dengan rel kereta api, sungai yang kotor penuuh sampah, bahkan semilir angin di tengah kegerahan Surabaya pun berbau tak sedap. Bagaimana mereka menikmati hidup? Benar-benar miris aku melihatnya.
            Tiba juga saatnya perkenalan denagan anak-anak. Di sebuah sanggar sempit. Aku kagum sekali melihat mereka mau datang. Melihat wajah-wajah mereka yang tetap riang menjelang proses belajar mengajar. Aku mendapat satu siswa, Anis namanya. ternyata yang mengajar kelas empat ada dua orang. Jadi apa boleh buat, mau tidak mau pasti akan ada yang jadi pengangguran terselubung.
            Setelah siswa direkap dan diserahkan kepada para tutor, proses belajar mengajar siap dimulai. Pertama-tama aku serta Mbak Resti mengajar Anis mata pelajaran PKN. Pasti akan sangat mudah, pikirkku. Pelajaran anak kelas empat SD tak terlalu sulit menurutku. Memang benar begitu adanya. Tapi, tak ku sangka-sangka mengajari anak ini sangat susah. Membaca buku saja dia masih tidak lancar untuk ukuran anak kelas empat SD. Membaca tidak sesua dengan tanda baca. Bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan simpel seperti “siapakah yang memimpin desa” dia tidak tau. Aku bingung. Mbak Resti yang lebih banyak mengajari Anis. Aku sangat kagum. Karena mengajarkan hal kecil dan dianggap remeh ternyata sangatlah susah. Berlanjut dari pelajaran PKN ke Matematik. Aku senang sekali karena matematika adalah bidang ku. Pelajaran paling favorit. Pasti mudah matematika anak kelas empat SD. Seperti biasa Mbak Resti yang lebih dominan mengajar. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Sama saja dengan pelajaran yang awal. Anak ini kurang bisa menangkap. Perkalian saja dia lama. Apalagi pembagian dan pengurangan. Menghitung penjumlahan juga tidak cepat. Mbak Resti mengajari dengan menggunakan jari untuk menghitung. Sekali lagi aku terkagum. Partner ku ini sanga telaten dalam mengajari anak ini. Meskipun berkali-kali dia salah dan salah hitung. Mukanya juga terlihat jenuh. Tapi dia tetap menghitung. Sesekali aku ikut membantu, ternyata menirukan gaya bicara Mbak Resti tidak mudah. Berbicara kepada anak-anak dengan lembut memang susah. Dari situ aku belajar betapa susahnya mengajar. Terlebih mengajari anak-anak yang masih kurang. Guru yang hebat bukanlah guru yang mengajar murid pandai. Tapi sebaliknya. Karena murid yang pandai akan cepat menangkapa apa yang dikatakan Gurunya. Yang berarti seorang guru tidak perlu berusaha keras untuk berhasil mengajar.