Menjadi seorang guru? Kelihatannya
sangat berat. Menangani murud-murid yang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.
Hari minggu kemarin (9 September
2012) aku mengikuti sebuah kegiatan sosial di kampus, yaitu Unair Mengajar.
Meskipun sebenarnya saya kurang bisa mengajar anak-anak, saya tetap
memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan sosial ini. Saya ingin belajar
mengajar dari Unair Mengajar. Mungkin tidak terlalu sulit, karena saya mendapat
bagian kelas 4 SD.
Sekitar pukul 9 acara sudah selesai
di susun. Aku dan yang lain berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Aku
penasaran di manakah lokasi kegiatan ini. Ku pelihara rasa penasaranku dalam
boncengan senior ku sambil menikmati teriknya matahari Surabaya. Mungkin di
suatu desa.
Perjalanan lumayan jauh. Jalan-jalan
sempit di seberang rel kereta api juga kita lewati. Bau busuk sampah mulai
menyerang samar-samar. Di mana sebenarnya lokasi tujuannya? Tiba-tiba saja
seniorku berhenti ketika masih di jalan samping rel kereta api. Kenapa ya? Apa
motornya mogok? Ternyata tidak. Memang disinilah lokasi kegiatan Unair
Mengajar. Benar-benar seperti acara di TV. Tempat tinggal berdampingan dengan
rel kereta api, sungai yang kotor penuuh sampah, bahkan semilir angin di tengah
kegerahan Surabaya pun berbau tak sedap. Bagaimana mereka menikmati hidup? Benar-benar
miris aku melihatnya.
Tiba juga saatnya perkenalan denagan
anak-anak. Di sebuah sanggar sempit. Aku kagum sekali melihat mereka mau
datang. Melihat wajah-wajah mereka yang tetap riang menjelang proses belajar
mengajar. Aku mendapat satu siswa, Anis namanya. ternyata yang mengajar kelas
empat ada dua orang. Jadi apa boleh buat, mau tidak mau pasti akan ada yang
jadi pengangguran terselubung.
Setelah siswa direkap dan diserahkan
kepada para tutor, proses belajar mengajar siap dimulai. Pertama-tama aku serta
Mbak Resti mengajar Anis mata pelajaran PKN. Pasti akan sangat mudah, pikirkku.
Pelajaran anak kelas empat SD tak terlalu sulit menurutku. Memang benar begitu
adanya. Tapi, tak ku sangka-sangka mengajari anak ini sangat susah. Membaca
buku saja dia masih tidak lancar untuk ukuran anak kelas empat SD. Membaca tidak
sesua dengan tanda baca. Bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan simpel seperti “siapakah
yang memimpin desa” dia tidak tau. Aku bingung. Mbak Resti yang lebih banyak
mengajari Anis. Aku sangat kagum. Karena mengajarkan hal kecil dan dianggap
remeh ternyata sangatlah susah. Berlanjut dari pelajaran PKN ke Matematik. Aku senang
sekali karena matematika adalah bidang ku. Pelajaran paling favorit. Pasti mudah
matematika anak kelas empat SD. Seperti biasa Mbak Resti yang lebih dominan
mengajar. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Sama saja dengan pelajaran
yang awal. Anak ini kurang bisa menangkap. Perkalian saja dia lama. Apalagi pembagian
dan pengurangan. Menghitung penjumlahan juga tidak cepat. Mbak Resti mengajari
dengan menggunakan jari untuk menghitung. Sekali lagi aku terkagum. Partner ku
ini sanga telaten dalam mengajari anak ini. Meskipun berkali-kali dia salah dan
salah hitung. Mukanya juga terlihat jenuh. Tapi dia tetap menghitung. Sesekali aku
ikut membantu, ternyata menirukan gaya bicara Mbak Resti tidak mudah. Berbicara
kepada anak-anak dengan lembut memang susah. Dari situ aku belajar betapa
susahnya mengajar. Terlebih mengajari anak-anak yang masih kurang. Guru yang
hebat bukanlah guru yang mengajar murid pandai. Tapi sebaliknya. Karena murid
yang pandai akan cepat menangkapa apa yang dikatakan Gurunya. Yang berarti
seorang guru tidak perlu berusaha keras untuk berhasil mengajar.