Kamis, 29 Maret 2012

Ketika Shock Tiba-tiba Melanda...

Shock... tiba-tiba diriku merasa terguncang
Ketika kaki tak mampu berpijak kuat
Ketika tangan tak lagi memegang erat...
Saat itulah diriku terguncang...
Kudapati diriku terjatuh... terjatuh...
Alangkah terkejut diri ini 
Ketika kusadari tangan tak lagi memegang
Kaki tak lagi memijak, 
Pijakan kaki tergantikan oleh badan yang terjatuh.
Semua mata memandang..
Sedang diri ini berkerut malu...
Segera ku sembunyikan muka ini
Tak mampu menatap sekitar
Oh nasib...
Memalukan benar kau ini...


nb: (kejadian sebenarnya adalah : ketika sedang membawa makan malam di kantin berwadahkan nampan alumunium menuju meja makan. tiba-tiba ... sroott.. aku terpeleset.. nampan melayang... pranggg... kantin dalam keadaan ramai... mereka SEMUA melihat ke arahku.. dan aku bersembunyi dibalik meja, ... huft...huft...huft... malu bo'..!)

Rabu, 21 Maret 2012

Untuk Pembangunan atau Eksploitasi

     Aku tinggal di sebuah desa kecil yang terletak di kota "P". Kotaku adalah Kota pinggiran. Tak begitu banyak koneksifitaas jalan raya. Tidak seperti Kota Surabaya yang membuat ku pusing. jalan raya di kotaku tak neko-neko. Tak akan cukup rumit untuk membuatmu merasa pusing. karena semuanya amat simple. Kecil kemungkinan akan tersesat.
     Kota ku ini bisa dibilagn masih perlu perhatian. karena pembangunan masih kurang. seperti sarana-sarana atau fasailita umum. Rumah sakit saja hanya ada satu. karena memang masih jarang masyarakat yang menggunakan jasa rumah sakit jika sakitnya tidak parah. Terlebih karena penghasilan masyrakat yang relatif kecil. Selayaknya masyarakat desa, matapencaharian yang ada dalam lingkungan tempat tinggalku tidak begitu beragam. masih saja berkutat di bidang cocok tanam. Meskipun ada yang berbeda, paling-paling hanya menjadi buruh pabrik setempat. karena di kota ku memang banyak berdiri perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik besar.
     Pendirian pabrik memang bermanfaat. terutama untuk penyerapan tenaga kerja. mengingat betapa banyaknya pengangguran yang harus diatas di negeri ini. Otomatis pendirian pabrik-pabrik amat sangat didukung oleh warga masyarakat. terutama para petinggi-petinggi yang pasti akanmenerima imbalan atas disetujuinya pembangunan bangunan-bangungn raksasa itu. Janji-janji pun di umbar kepada masyarakat. mereka berkata bahwasanya perekrutan tenaga kerja akan di utamakan untuk masyarakat setempat. Tentu saja masyarakat terbuai oleh isu-isu yang memang benar kebenarannya. Mereka terbuai oleh rayuan-rayuan pihak-pihak yang bersangkuta. masyarakat menganggap bahwa pendirian perusahaan ini berguna untuk meningkatkan  kesejahteraan masyarakat desa setempat. berguna untuk meningkatkan penghasilah yang biasannya hanya didapat dari menggarap sawah. berharap anak-anak mereka yang sedang  mengenyam pendidikan di bangku sekolah tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan pada nantinya. Namun mereka lupa akan potensi sumber daya manusia yang mereka miliki amat sangat kurang. Tidak mungkin masyarakat yang berlatar belakang bidang pertanian tiba-tiba dalam waktu sekejap bisa beradaptasi dengan dunia industri. Perekrutan memang benar-benar dilakukan. Janji mereka juga benar. Bahwasanya yang di utamakan untiuk diterima adalah masyarakat desa setempat. Jika dilihat sekalilagi dengan teliti. Posis apakah yang mereka dapatkan? seorang anak lulusan SMA hanya menjadi buruh pabrik rendahan. Apakah seorang anak SMA di didik untuk menngangkat-angkat barang seperti itu? orang tak berpendidikanpun juga bisa melakukan pekerjaan semacam itu. Pada kenyataannya tenaga kerja terampil yang berkerja pada perusahaan tersebut kebanyakan bahkan sebagia besar justru bukan warga setempat. Tak mungkinlah orang-orang di desaku ini akan diterima untuk jabatan-jabatan yang penting. SDM tak mencukupi, otomatis perekrutan tenaga kerja akan diperuntukkan untuk siapa saja yang dapat mencukupi kriteria. bukan atas dasar mengutamakan penduduk setempat lagi. Jika keadaan sudah begini, siapakah yang patut di salahkan? masyarakat yang tertipu? para oknum yang jujur tapi berotak licik? pada dasarnya mereka sudah tau bahwa sanya SDM masyarakat tidak mencukupi, maka dari itulah mereka berani mengumbar janji demikian. Ditambah perekrutan yang banyak terjadi banyak kecurangan. Dengan biaya. dan akhirnya hanya mrugikan penduduk setempat. Lahan hijau sudah terampas. Kebisingan mesin yang dirasakan oleh penduduk yang bermukin di sekitar area pabrik. sumberdaya alam yang terus menerus di ambil. Pada akhirnya semua ini hanya sebuah acara eksploitasi yang tak bermoral. pejabat yang seharusnya mementingkan kepentinagan rakyat tak bisa berfikir selain untuk perutnya sendiri. Janji di umbar sana-sini. dan kini tak ada. tak ada apapun yang mereka berikan. yang jelas nampak adalah rumah mereka semakin bagus, mobil mereka semakin berkelas. keluarga mereka semakin makmur. dan RAKYAT mereka MENDERITA! 
     tinggallah kini Kota ku yang dihuni banyak pabrik-pabrik asing nan terkenal namun masyarakatnya tidak sejahtera. bahkan butuk perhatian. Sebagai genrasi baru pengetahuan sangatlah berguna. dengan pengetahuan kita tak akan terpedaya oleh perkembangan zaman yang kian lama kian memaksa untuk di ikuti.

KENDALA MENULIS



Setiap orang pasti memiliki suatu pengalaman yang menarik. Entah itu menyenangkan atau menyebalkan.
 Ketika aku mengalami kejadian yang menurutku berkesan, menyedihkan, membahagiakan atau jarang terjadi aku ingin sekali menuliskannya agar aku bisa mengenangnya suatu saat nanti. Aku tak hanya ingin, tapi juga telah menuliskannya. Entah itu dalam dyare, coret-coretan atau di Ms word. Sebenarnya aku rajin menulis. Rajin sekali. Namun tulisanku tak kunjung selesai. Terkadang  aku mengalami suatu kejadian yang berkelanjutan. Jadi ceritanya berlarut-larut. Terkadang aku berinisiatif untuk menuliskannya dalam bentuk cerpen atau naskah drama misalnya. Karena menurutku peristiwa yang ku alami itu menarik dan unik. Namun sering kali rasa bosan, malas menghampiriku. Baru dua paragraf ku ketikkan cerita ku aku sudah merasa jenuh. Hingga aku menunda pekerjaanku itu. Ketika ingin melanjutkan aku kembali merasa jenuh. Bahkan sensasi dari pengalaman pun berkurang. Cukup sulit bagiku menulis cerita tanpa di dorong oleh suatu niat yang sungguh. Rasanya aku seperti kehilangan jiwa. Akhirnya aku tidak pernah menyelesaikannya. Atau, jika aku ingin menyelesaikannya aku langsung mengakhirinya dengan ending yang tidak jelas. Terlalu singkat. Seperti inilah contohnya. Aku jenuh dan bosan.